
24 Dalang Muda Kulon Progo unjuk kebolehan pada Festival Dhalang Anak-Remaja 2026

Yogyakarta (ANTARA) - Sebanyak 24 dalang muda berbakat yang terdiri dari 12 dalang cilik dan 12 dhalang remaja berkumpul untuk menunjukkan kemampuannya dalam Festival Dhalang Anak dan Remaja 2026 Kabupaten Kulon Progo.
Mengusung tema "Mengukir Prestasi Menjunjung Tradisi", para peserta ini merupakan utusan terbaik dari 12 kapanewon yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan panggung bagi generasi muda untuk merawat jati diri budaya di tengah arus zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, menyampaikan bahwa festival ini adalah langkah nyata dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur di masyarakat.
"Tujuannya adalah memberikan apresiasi seni sekaligus media pengembangan potensi bagi anak-anak dan remaja, khususnya dalam bidang seni pedalangan yang menjadi potensi besar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)," ujar Joko Mursito.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi upaya serius dalam melestarikan warisan budaya pedalangan agar tetap dicintai oleh generasi penerus.
Di tengah ketatnya persaingan, salah satu peserta kategori remaja asal Kapanewon Wates, Gading Brahmayuda. Siswa SMA yang akrab disapa Gading ini mengaku sudah mempersiapkan diri secara intensif selama dua minggu terakhir. Ketertarikannya pada dunia wayang ternyata berawal dari rumah, mengikuti jejak sang ayah, Ki Wisdu Hadi Sugito, yang juga seorang dalang.
"Dari kecil, sejak masih TK, saya memang sudah suka wayang karena bapak juga seorang dhalang," tutur Gading.
Menurut Bupati Kulon Progo, R. Agung Setyawan, festival ini memiliki makna penting sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda.
"Melalui seni wayang, anak-anak belajar tentang disiplin, ketekunan, dan keberanian tampil. Mereka belajar memahami nilai-nilai luhur kehidupan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri untuk terus berkarya," ungkap Agung.
Untuk menjaga kualitas perlombaan, pihak panitia menghadirkan dewan juri yang terdiri dari para praktisi dan ahli di bidang pedalangan serta budaya. Ada lima aspek utama yang dinilai, yaitu:
-Sabet: Kemampuan vokal dhalang.
-Catur: Penguasaan lagu, iringan, serta kemampuan menyanyikan sulukan.
-Sanggit: Kreativitas dan gaya khusus dalam menyusun serta membawakan cerita.
-Iringan: Keselarasan permainan musik pengiring.
-Penyajian: Penampilan secara keseluruhan di atas panggung.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga telah menyiapkan uang pembinaan dengan total puluhan juta rupiah bagi para pemenang sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam melestarikan tradisi.
-Kategori Anak: Hadiah mulai dari Rp5 juta hingga Rp7 juta.
-Kategori Remaja: Hadiah mulai dari Rp6 juta hingga Rp8 juta. Selain uang pembinaan, para juara juga berhak mendapatkan piagam dan plakat.
Festival ini terlaksana berkat dukungan penuh dari Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo Tahun Anggaran 2026.
Para pemenang dari festival ini nantinya akan dipilih untuk mewakili Kabupaten Kulon Progo maju ke perlombaan di tingkat Provinsi DIY. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan muncul bibit-bibit dhalang profesional yang tidak hanya mahir secara teknik, tetapi juga mampu menjadi penjaga api kebudayaan di masa depan. Semoga seni wayang kulit tetap abadi di hati generasi muda Kulon Progo sebagai cerminan bangsa yang luhur dan bermartabat. (RZ)
Pewarta : SP
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
