Logo Header Antaranews Jogja

Dinas Kebudayaan DIY kuatkan jejaring seni kontemporer

Senin, 18 Mei 2026 18:21 WIB
Image Print
Kasi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta Dinas Kebudayaan DIY Cerrya Wuri Waheni dalam konferensi pers di Yogyakarta, Senin (18/5/2026). ANTARA/Hery Sidik

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadirkan ruang perjumpaan kreatif melalui kegiatan Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (20/5), guna memperkuat jejaring seni kontemporer.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Taman Budaya Yogyakarta dalam menyediakan ruang ekspresi, regenerasi dan penguatan jejaring seni kontemporer," kata Kasi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta Cerrya Wuri Waheni di Yogyakarta, Senin.

Kegiatan tersebut, katanya, menghadirkan tiga penata tari lintas generasi yang mewakili perjalanan, pengalaman, dan pandangan dari generasi berbeda, yaitu usia 20-an, 30-an dan 40-an tahun.

Sebanyak tiga karya yang akan dipentaskan, yakni Besar Widodo (generasi 40-an) dengan karya "Di Atas Irama Dua", Galih Puspita (generasi 30-an) dengan karya "Ngluru Lurung", Eka Lutfi Febriyanto (generasi 20-an) dengan karya "Sangkar Sunyi yang Bernyawa".

Selain pertunjukan utama, juga akan disuguhkan kolaborasi ketiga penata tari lintas generasi sebagai simbol kehadiran dialog dan eksplorasi gerak kontemporer tiga generasi.

Dia menjelaskan Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi tidak sekadar pertunjukan tari, tetapi juga ruang silaturahim antar-generasi serta upaya memperkaya khasanah seni pertunjukan kontemporer.

Setiap generasi, ujar dia, memiliki sudut pandang, pengalaman, dan bahasa gerak sendiri.

Melalui pertemuan lintas generasi ini, katanya, semua dapat belajar bahwa seni bukan hanya warisan, tetapi juga kesinambungan yang terus hidup.

"Selain itu diharapkan lahir pertukaran gagasan dan pengalaman yang mampu memperkaya perkembangan seni tari kontemporer di Indonesia," katanya.



Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026