
UGM kembangkan teknologi pemotongan ternak kurban yang efisien

Yogyakarta (ANTARA) - Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Yogyakarta mengembangkan inovasi Gama Abilawa Portable Restraining Box, teknologi untuk meningkatkan efisiensi dalam pemotongan ternak kurban sekaligus mendukung kesejahteraan hewan.
"Kasus yang sering dijumpai di lapangan adalah kecelakaan petugas penyembelih maupun ternak yang mengalami luka akibat proses perebahan yang tidak tepat. Dengan portable restraining box, sapi lebih mudah ditangani dan proses penyembelihan bisa dilakukan dengan lebih aman," kata Guru Besar Fapet UGM Prof Panjono dalam "Fapet Menyapa" di Yogyakarta, Senin.
Prof Panjono yang juga penggagas teknologi tersebut mengatakan, praktik pemotongan sapi kurban di masyarakat selama ini menggunakan peralatan terbatas, proses penanganan ternak juga sering dilakukan kurang manusiawi, sehingga berdampak pada kesejahteraan hewan maupun kualitas daging yang dihasilkan.
"Selama ini banyak pemotongan sapi kurban dilakukan di luar TPH (tempat pemotongan hewan) dengan fasilitas terbatas. Kondisi ini menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik maupun psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas penyembelihan, serta menurunkan kualitas daging," katanya.
Dia mengatakan, dalam praktik di lapangan sapi kurban seringkali sulit ditangani sejak proses penambatan, penggiringan menuju lokasi penyembelihan, hingga perebahan dan pengikatan sebelum disembelih.
Kondisi tersebut tidak jarang memicu ternak mengamuk, mengalami luka, bahkan menimbulkan kecelakaan pada petugas penyembelihan.
"Inovasi portable restraining box hadir untuk mempermudah penanganan ternak secara lebih aman dan manusiawi. Dengan alat ini, sapi dapat diarahkan masuk ke dalam box dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi," katanya.
Prof Panjono mengatakan, alat tersebut dirancang agar kompatibel dan mudah digunakan di berbagai lokasi yang tidak memiliki fasilitas TPH. Desainnya portabel sehingga mudah dipindahkan dan cocok digunakan panitia kurban di berbagai daerah.
Dia mengatakan, pengembangan alat ini telah dilakukan sejak 2019 dan terus disempurnakan setiap tahun berdasarkan evaluasi lapangan. Penggunaan portable restraining box ini mampu mempercepat proses pemotongan hingga 52,5 persen.
Bahkan, kata dia, dengan alat ini pemotongan ternak cukup ditangani lima personel dengan risiko rendah. Jadi, selain mendukung efisiensi kerja, alat ini juga mampu meminimalkan stres dan cedera pada ternak sehingga kualitas daging yang dihasilkan menjadi lebih baik.
"Hasil penelitian menunjukkan portable restraining box mampu meningkatkan efisiensi proses pemotongan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ternak. Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging menjadi lebih terjamin," katanya.
Sementara itu, tim dari Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fapet UGM Prof Tri Satya Mastuti Widi mengatakan, selain teknologi restraining box, pihaknya juga mengembangkan protokol pengukuran kesejahteraan hewan yang disesuaikan dengan kondisi tropis di Indonesia.
Menurut dia, pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan sudut pandang hewan, bukan semata dari sisi manusia atau peternak.
"Pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan apa yang dialami hewan. Karena itu kami mengembangkan berbagai protokol pengukuran yang sesuai dengan sistem produksi di daerah tropis, baik intensif, semi-intensif, maupun ekstensif," katanya.
Menurut dia, protokol tersebut dapat diterapkan pada berbagai jenis ternak, mulai dari ternak besar dan kecil, ternak kerja maupun olahraga, hingga hewan kesayangan.
Selain itu, pengukuran kesejahteraan ternak juga dilakukan pada Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) sebagai bagian dari upaya peningkatan standar kesejahteraan hewan di Indonesia.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
