Logo Header Antaranews Jogja

Sultan sebut penyederhanaan Garebeg Besar bentuk penghematan anggaran

Kamis, 21 Mei 2026 20:58 WIB
Image Print
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. ANTARA/HO-Humas Pemda DIY

Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut kebijakan penyederhanaan upacara adat Garebeg Besar yang akan dilaksanakan pada Rabu (27/05), sebagai bentuk penghematan anggaran secara nyata.

"Ya penghematan aja, kabeh (semua) kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghematlah prinsipnya kan gitu," kata dia di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (21/5).

Menurut dia, langkah memusatkan seluruh rangkaian prosesi adat Garebeg Besar 2026 di internal Keraton Yogyakarta itu demi menyelaraskan langkah dengan pemerintah pusat maupun daerah yang saat ini gencar melakukan penghematan.

Langkah tersebut dipilih Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai sikap realistis dalam mengelola pembiayaan upacara adat dengan menyesuaikan situasi ekonomi yang sedang berjalan.

Apalagi, kata dia, komponen biaya terbesar dalam tradisi adat menyambut Idul Adha selama ini memang berpusat pada pergerakan logistik dan kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel.

Dengan demikian, penyesuaian pada lini tersebut dinilai sebagai keputusan yang paling masuk akal untuk situasi saat ini.

Baca juga: Pemda DIY mengembangkan ruang terbuka hijau di kawasan eks parkir ABA

Baca juga: DIY memperoleh bantuan enam sapi kurban dari Presiden

"Ya kita lihat yang pemerintah APBN ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya yang terbesar itu kan di situ. Kalau (biaya) kecil terus penghematan kan ndak logis. Itu aja," katanya.

Meski demikian, Sri Sultan menyebut kebijakan tersebut tidak bersifat permanen dan belum menentukan apakah format sederhana Garebeg Besar pada 2026 akan terus dipertahankan pada upacara-upacara berikutnya.

Pihak Keraton Yogyakarta, katanya, akan terus melihat situasi dan dinamika pemulihan ekonomi ke depan sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Kendati Garebeg Besar 2026 tanpa arak-arakan gunungan, ia menyebut, pengawalan prajurit tetap berpotensi hadir pada upacara kebudayaan lain, seperti Sekaten.

Hanya saja, katanya, tetap menyesuaikan prioritas penghematan yang berjalan.

"Saya nggak bisa menentukan nanti kita lihat perkembangan kalau memang apa keadaan ekonominya lebih baik ya dimunculkan lagi kita kan belum tahu," tutup Sri Sultan.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026