
Cak Kartolo dan panggung yang belum usai

Surabaya (ANTARA) - Ludruk pernah menjadi suara paling akrab di sudut-sudut Jawa Timur. Dari panggung tobong yang berpindah kampung, radio yang menyala di warung kopi, hingga kaset yang diputar berulang di ruang tamu, ludruk hadir bukan sekadar hiburan, melainkan cara masyarakat membaca hidup dengan tertawa.
Di antara deretan nama besar kesenian itu, satu sosok bertahan melintasi zaman dengan gaya yang nyaris tak tergantikan, yakni Cak Kartolo.
Di usia lebih dari delapan dekade, ia masih melontarkan jula-juli dengan spontan, menyisipkan kritik sosial di sela banyolan, dan membuat orang tertawa tanpa merasa digurui.
Namun, kisah Cak Kartolo sesungguhnya bukan sekadar tentang seorang pelawak panggung. Ia menjadi cermin tentang bagaimana budaya rakyat bertahan di tengah perubahan teknologi, tekanan ekonomi, hingga pergeseran selera generasi muda.
Pengakuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia yang menetapkan arsip kiprah Cak Kartolo sebagai Memori Kolektif Bangsa pada 2026 menjadi penanda penting. Penghargaan itu diumumkan dalam ajang Anugerah Kearsipan Tahun 2026 yang digelar dalam rangka Hari Kearsipan Nasional ke-55 di Gedung C ANRI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Negara akhirnya mengakui bahwa ludruk bukan sekadar tontonan pinggiran, melainkan bagian dari ingatan kebudayaan Indonesia. Pengakuan itu juga menyiratkan satu hal penting bahwa perjalanan seorang seniman rakyat ternyata mampu merekam denyut sosial sebuah daerah selama puluhan tahun.
Irama zaman
Lahir di Prigen, Pasuruan, tahun 1947, Kartolo tumbuh di tengah kehidupan wong cilik yang keras. Ia bukan produk sekolah seni, bukan pula anak elite budaya. Pendidikan formalnya berhenti di tingkat Sekolah Rakyat. Namun, justru dari ruang sosial itulah ludruk menemukan rohnya.
Pada era 1970-an, ia menjalani kehidupan ludruk tobong, berpindah dari satu kampung ke kampung lain. Masa itu merupakan periode ketika ludruk masih menjadi hiburan utama masyarakat kelas pekerja di Jawa Timur. Penonton rela duduk semalaman demi menyaksikan cerita yang dekat dengan hidup mereka sendiri.
Namun, perubahan datang cepat. Televisi mulai masuk rumah-rumah warga pada 1980-an. Panggung ludruk perlahan kehilangan penonton. Banyak grup bubar. Sebagian seniman menyerah. Akan tetapi, Cak Kartolo memilih beradaptasi.
Ia membawa ludruk masuk ke medium baru melalui rekaman kaset bersama Nirwana Record. Dari sinilah lahir puluhan episode jula-juli dan lawakan yang kemudian melegenda di Jawa Timur. Suara ludruk tak lagi terbatas pada panggung fisik, tetapi berpindah ke radio, tape recorder, hingga kemudian media sosial.
Transformasi itu penting dicatat. Banyak kesenian tradisional runtuh karena terlalu sibuk menjaga bentuk lama dan menolak perubahan medium. Cak Kartolo justru melakukan hal sebaliknya. Ia mempertahankan ruh ludruk, tetapi mengubah cara penyampaiannya.
Di titik ini, Cak Kartolo bukan hanya seniman, melainkan inovator budaya.
Ia memahami bahwa budaya rakyat tidak bisa hidup hanya dengan nostalgia. Tradisi harus berani masuk ke ruang tempat masyarakat berkumpul. Ketika generasi muda pindah ke televisi, ia masuk televisi. Saat publik beralih ke YouTube dan TikTok, ia ikut bergerak ke platform digital.
Langkah itu terlihat jelas ketika pandemi COVID-19 menghantam dunia pertunjukan pada 2020 hingga 2021. Panggung sepi. Hajatan berhenti. Banyak seniman kehilangan penghasilan. Bahkan, Cak Kartolo sempat menawarkan rumahnya di Surabaya untuk dijual demi menopang kebutuhan keluarga dan pendidikan cucunya.
Ironisnya, di saat potongan lawakan dan kidungnya viral di media sosial, sang maestro justru menghadapi tekanan ekonomi. Situasi ini membuka ironi besar dalam ekosistem seni tradisi Indonesia. Popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan seniman.
Indonesia selama ini sering bangga menyebut budaya sebagai identitas bangsa, tetapi perlindungan ekonomi bagi pelaku budaya kerap tertinggal. Banyak seniman tradisi hidup tanpa sistem royalti yang jelas, tanpa jaminan sosial memadai, dan bergantung pada panggung yang sifatnya musiman.
Kisah Cak Kartolo memperlihatkan persoalan itu secara gamblang.
Pewarta : Abdul Hakim
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
