
Cak Kartolo dan panggung yang belum usai

Suara rakyat
Salah satu kekuatan terbesar Cak Kartolo terletak pada kemampuannya membaca bahasa rakyat. Jula-juli yang ia bawakan tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kecerdasan sosial.
Parikan-parikannya tidak lahir dari ruang akademik, melainkan dari percakapan sehari-hari masyarakat Jawa Timur. Di situlah letak kekuatan ludruk. Ia berbicara dengan bahasa yang dipahami rakyat biasa.
Humor Kartolo juga memiliki karakter khas. Kritik sosial disampaikan tanpa kemarahan yang meledak-ledak. Sindiran hadir lewat kelakar. Penonton tertawa, tetapi sekaligus diajak bercermin.
Tradisi seperti ini sesungguhnya memiliki akar panjang dalam sejarah Jawa Timur. Pada masa pendudukan Jepang, ludruk digunakan sebagai medium kritik sosial melalui tokoh seperti Cak Durasim. Semangat itulah yang kemudian diwarisi Kartolo dalam bentuk lebih modern.
Ia membuat ludruk tetap relevan tanpa kehilangan identitas Suroboyoannya.
Masalahnya, bahasa lokal kini menghadapi tantangan besar. Generasi muda perkotaan makin akrab dengan budaya populer global dibanding bahasa daerah sendiri. Banyak anak muda Surabaya bahkan mulai canggung menggunakan dialek Jawa Timuran dalam percakapan sehari-hari.
Di tengah situasi itu, jula-juli Kartolo sebenarnya memiliki fungsi lebih besar daripada sekadar hiburan. Ia menjadi ruang mempertahankan identitas lokal.
Ludruk mengajarkan bahwa bahasa daerah bukan simbol keterbelakangan. Ia justru bisa menjadi medium kreativitas modern. Fenomena viralnya potongan lawakan Kartolo di TikTok menunjukkan satu hal menarik: Generasi muda ternyata masih bisa menikmati humor tradisional ketika dikemas dengan medium yang sesuai zaman.
Ini menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan budaya di Indonesia. Persoalan utama kesenian tradisi sering kali bukan pada kualitas isinya, melainkan pada cara distribusi dan pengemasannya.
Menjaga nyala
Pengakuan Memori Kolektif Bangsa terhadap arsip Cak Kartolo patut diapresiasi. Namun, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai setelah penghargaan diberikan.
Arsip penting, tetapi budaya tidak cukup hanya disimpan di lemari dokumentasi. Ia harus terus dimainkan, dipelajari, dan diwariskan.
Tantangan ludruk hari ini bukan semata regenerasi pemain, melainkan regenerasi penonton. Banyak anak muda mengenal budaya Korea Selatan melalui sekolah, media sosial, hingga industri hiburan yang masif. Sementara ludruk sering dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem yang kuat.
Karena itu, pelestarian ludruk membutuhkan pendekatan yang lebih progresif. Pemerintah daerah tidak cukup hanya menggelar festival tahunan. Ludruk perlu masuk ke ruang pendidikan, platform digital, hingga industri kreatif modern.
Kolaborasi dengan film, konten pendek, animasi, bahkan stand up comedy bisa menjadi jalan baru memperluas audiens. Apa yang dilakukan Cak Kartolo lewat YouTube sebenarnya sudah menunjukkan arah itu.
Di sisi lain, perlindungan ekonomi seniman tradisi juga harus diperkuat. Sistem royalti karya, dana abadi kebudayaan daerah, hingga jaminan sosial bagi pekerja seni perlu dipikirkan lebih serius. Budaya tidak akan bertahan lama jika pelakunya hidup dalam ketidakpastian.
Cak Kartolo telah membuktikan bahwa ludruk mampu bertahan melewati radio, televisi, kaset, hingga media digital. Namun, pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah ludruk masih bisa hidup, melainkan apakah generasi setelah Kartolo memiliki ruang cukup untuk melanjutkan api itu.
Sebab, ketika seorang maestro masih harus berjuang mempertahankan hidup di tengah riuh tepuk tangan penonton, yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya nasib seorang seniman, melainkan kesungguhan bangsa dalam merawat ingatan dan martabat budayanya sendiri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cak Kartolo dan panggung yang belum usai
Pewarta : Abdul Hakim
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
