Logo Header Antaranews Jogja

Wamentan sebut cetak sawah jadi investasi pangan jangka panjang

Selasa, 26 Mei 2026 10:12 WIB
Image Print
Arsip - Foto udara lahan sawah siap tanam di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (25/5/2026). Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mempercepat pencetakan ulang 50 ribu hektare sawah yang rusak di sejumlah daerah pascabencana pada akhir tahun 2025 lalu. ANTARA FOTO/Yudi Manar/rwa.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan program cetak sawah membutuhkan proses bertahap sebelum lahan dapat optimal ditanami sebagai bagian dari investasi jangka panjang ketahanan pangan nasional.

Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin, mengatakan program cetak sawah tidak dapat langsung menghasilkan produksi tinggi, terutama pada lahan rawa yang memerlukan pengelolaan bertahap.

“Jangan dibayangkan cetak sawah hari ini, lalu besok langsung ditanam dan panen lima ton atau 10 ton. Itu tidak bisa karena membutuhkan beberapa kali siklus,” katanya.

Ia mencontohkan program cetak sawah di Kalimantan Tengah seluas sekitar 51 ribu hektare yang sebelumnya berupa lahan rawa dan belum dapat dimanfaatkan untuk pertanian.

Baca juga: Dukung ketahanan pangan, Pemerintah akan tetapkan lahan sawah yang dilindungi di 12 provinsi

Baca juga: Menteri ATR/Kepala BPN batasi alih fungsi lahan sawah demi ketahanan pangan

Menurut dia, lahan tersebut kini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian setelah melalui proses pengembangan.

Sudaryono juga menyebut pengembangan sawah di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang sebelumnya berupa rawa dan belum dimanfaatkan sebagai lahan persawahan.

Ia mengatakan setelah melalui pengembangan selama beberapa tahun, lahan tersebut kini mampu ditanami dan dipanen hingga tiga kali dalam setahun.

Menurut Sudaryono, tantangan utama pengembangan sawah bukan hanya penyediaan bibit, pupuk, atau pestisida, melainkan pengelolaan air.

“Bibit bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita siapkan, tetapi air tidak bisa diciptakan. Air hanya bisa dikelola sehingga kami fokus di daerah yang memiliki ketersediaan air,” ujarnya.

Ia menambahkan program cetak sawah juga disertai pelatihan petani, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta distribusi benih unggul.

Baca juga: Pemerintah memperketat pengendalian alih fungsi lahan sawah

Baca juga: Wamendagri: Pemerintah komitmen rehabilitasi sawah terdampak bencana

Menurut dia, berbagai dukungan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pengembangan pertanian.

Sudaryono menegaskan program cetak sawah tetap diperlukan meskipun Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan.

Hal ini, kata dia, untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan menjaga ketersediaan pangan dalam jangka panjang.

“Penduduk kita terus bertambah, sehingga ini menjadi cadangan pangan untuk 50 sampai 100 tahun ke depan,” katanya.







Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamentan: Cetak sawah investasi jangka panjang pangan



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026