Logo Header Antaranews Jogja

Kurs offshore Rp17.800, ekonom: Rupiah tanggung banyak tekanan ekonomi

Kamis, 28 Mei 2026 12:51 WIB
Image Print
Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026). Bank Indonesia (BI) segera membatasi pembelian mata uang dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying) maksimal 25.000 dolar AS per orang per bulan yang akan berlaku pada Juni 2026 guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang nilai tukar rupiah saat ini menanggung banyak tekanan ekonomi, merespons pelemahan nilai tukar yang kini melewati level Rp17.800 per dolar AS di pasar offshore atau luar negeri.

Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar.

Namun, ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelas Fakhrul.

Menurutnya, hal tersebut yang membuat pelemahan rupiah saat ini tampak jauh lebih besar dibandingkan beberapa indikator ekonomi lainnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini relevan dengan teori Dornbusch Overshooting. Ketika harga domestik rigid sementara pasar keuangan bergerak cepat, maka nilai tukar akan bergerak jauh lebih ekstrem dibanding fundamentalnya.

“Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” ujar dia.

Dia mengatakan, fenomena ini sering terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek.

Baca juga: Menkeu Purbaya memastikan APBN aman meski rupiah tembus Rp17.800 per dolar AS

Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi dilema besar antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal.

Fakhrul menilai, keputusan untuk menahan penyesuaian harga energi dapat dipahami dari sisi sosial dan politik. Namun konsekuensinya, tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.

“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” imbuh dia.

Ia memandang bahwa fundamental 67 ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lain.

Dalam hal ini, inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih positif. Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa pasar saat ini tidak hanya melihat angka headline.

“Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” ujar dia.

Lebih lanjut, jelas Fakhrul, yang tengah diuji saat ini bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi kredibilitas dan konsistensi kebijakan.

Ia mengamini bahwa faktor global turut menekan rupiah, mulai dari geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, hingga tingginya imbal hasil (yield) US Treasury.

Baca juga: Menaker tanggapi potensi PHK di tengah pelemahan rupiah

Akan tetapi, menurutnya, faktor domestik juga berperan karena pasar melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter.

Ia juga menilai, sejumlah komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang buruk turut memperbesar ketidakpastian.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.

Adapun rupiah di pasar offshore bergerak melemah hingga melewati level Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5) dan Kamis (28/5).

Merujuk pada perdagangan spot di pasar valas global, kurs rupiah berada di level Rp17.873,5 per dolar AS pada Kamis (28/5) pukul 12.21 WIB.

Baca juga: Kemenkeu pastikan masih intervensi pasar obligasi guna jaga rupiah





Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kurs offshore Rp17.800, ekonom: Rupiah tanggung banyak tekanan ekonomi



Pewarta :
Editor: Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026