Logo Header Antaranews Jogja

Pakar UMY: PLN perlu audit jaringan listrik Sumatera pasca-"blackout"

Jumat, 29 Mei 2026 23:24 WIB
Image Print
Pakar sistem tenaga listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rahmat Adiprasetya Al Hasibi. (ANTARA/HO-Humas UMY)

Yogyakarta (ANTARA) - Pakar sistem tenaga listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rahmat Adiprasetya Al Hasibi menilai, audit menyeluruh terhadap sistem proteksi jaringan kelistrikan Sumatera harus menjadi langkah pertama dan paling mendesak yang dilakukan PT PLN (Persero) pascapemadaman total (blackout) massal pada 22–24 Mei 2026.

Rahmat di Yogyakarta, Jumat mengatakan, audit ini mengingatkan bahwa tanpa adanya evaluasi teknis yang terstruktur, sistem kelistrikan di wilayah Sumatera akan tetap rentan mengalami gangguan serupa di masa mendatang.

"Yang perlu dilakukan pertama dan paling mendesak adalah audit terhadap pengaturan sistem proteksi yang ada saat ini. Kemudian, evaluasi skema respons frekuensi pada setiap generator di jaringan Sumatera," kata Rahmat dalam rilisnya.

Ia mengatakan, respons dari pihak PLN tidak boleh berhenti sekadar pada pernyataan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang kembali.

Menurut dia, tanpa evaluasi teknis yang menyeluruh dan bertahap, sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera masih berpotensi mengalami gangguan dengan pola yang sama.

Dalam jangka menengah, Rahmat mendorong perusahaan setrum milik negara tersebut untuk melakukan inspeksi menyeluruh terhadap jalur bebas transmisi atau right of way (ROW), yakni ruang aman di sepanjang koridor jaringan tegangan tinggi yang harus terbebas dari hambatan fisik maupun vegetasi.

"Inspeksi tersebut sangat penting, terutama pada ruas transmisi yang menjadi tulang punggung (backbone) sistem interkoneksi Sumatera," katanya.

Selain itu, Rahmat juga meminta PLN segera melakukan simulasi ulang terhadap berbagai skenario gangguan besar, khususnya pada kondisi beban puncak, guna memiliki peta risiko yang lebih akurat untuk langkah antisipasi.

"Kita perlu mengetahui titik mana yang paling rentan apabila gangguan besar kembali terjadi saat beban puncak. Simulasi seperti ini harus dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah terjadi insiden," tegasnya.

Sementara itu, untuk jangka panjang, Rahmat mendorong PLN melakukan investasi pada sistem pemantauan jaringan yang lebih canggih, seperti teknologi Wide Area Measuring System (WAMS) yang mampu memantau kondisi jaringan listrik secara real-time dalam cakupan wilayah geografis yang luas.

Teknologi tersebut memungkinkan operator mendeteksi potensi ketidakstabilan sejak dini sebelum berkembang menjadi gangguan besar yang tidak terkendali.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan porsi pembangkit listrik yang memiliki fleksibilitas tinggi dalam bauran energi Sumatera, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang dinilai lebih responsif terhadap perubahan beban listrik secara cepat.

Seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan secara nasional, Rahmat menilai investasi pada sistem penyimpanan energi berbasis baterai juga sudah tidak dapat ditunda lagi.

"Kalau penetrasi energi terbarukan semakin tinggi, variabilitas dalam sistem juga akan semakin besar. Karena itu, kita membutuhkan pembangkit yang fleksibel dan sistem penyimpanan energi yang memadai. Ini bukan lagi pilihan yang bisa terus ditunda," kata Rahmat.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026