Logo Header Antaranews Jogja

Tradisi Lawa Pipi, Miniatur Ibadah Haji dari Negeri Hila Maluku

Sabtu, 30 Mei 2026 10:46 WIB
Image Print
Pemuda warga Negeri Hila, Maluku Tengah, berarak-arakan sambil memikul kambing temal dalam tradisi Lawa Pipi Idul Adha 2026. ANTARA/Winda Herman

Ambon (ANTARA) -

Takbir menggema di udara pagi Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di tengah sorak-sorai warga, ratusan pemuda berlari kecil menyusuri jalan kampung sambil memikul seekor kambing jantan di pundak mereka. Di belakangnya, ribuan warga berjalan mengikuti prosesi dengan lantunan doa dan takbir yang bersahut-sahutan.

Pemandangan itu bukan sekadar arak-arakan hewan kurban. Masyarakat Hila menyebutnya Lawa Pipi atau "Bawa Lari Kambing", sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Adha. Bagi warga setempat, tradisi ini merupakan miniatur pelaksanaan ibadah haji yang diwariskan para leluhur sejak ratusan tahun silam.

Sejak pagi, negeri adat yang berada di pesisir Jazirah Leihitu itu telah dipadati warga dari berbagai daerah. Mereka datang untuk menyaksikan salah satu tradisi paling khas di Maluku, yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat.

Rangkaian Lawa Pipi diawali dengan tahlilan di beranda Rumah Tua Ollong. Tokoh agama, tokoh adat, kasisi masjid, serta masyarakat berkumpul memanjatkan doa bagi para leluhur sekaligus mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan.

Usai tahlilan, seekor kambing pilihan yang disebut "Kambing Temal" dikeluarkan. Kambing terbesar dan paling sehat itu memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi. Ia dimaknai sebagai simbol pengganti Nabi Ismail AS dalam kisah kurban.

Tak lama kemudian, para pemuda mengangkat Kambing Temal ke pundak mereka. Dengan langkah cepat menyerupai lari kecil, mereka mengarak kambing tersebut mengelilingi kampung. Prosesi ini melambangkan Sa’i, salah satu rukun haji yang dilakukan jamaah di Tanah Suci.

Baca juga: Timwas Haji DPR usul bangun tenda bertingkat solusi kepadatan di Mina



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026