Logo Header Antaranews Jogja

Buah manis reformasi Paris Saint Germain di bawah era Luis Enrique

Minggu, 31 Mei 2026 11:25 WIB
Image Print
Kapten Paris Saint-Germain, Marquinhos, mengangkat trofi dan melakukan selebrasi bersama rekan satu tim setelah memenangkan Liga Champions UEFA usai mengalahkan Arsenal di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, Sabtu (30/05/2026). PSG sukses mempertahankan gelar Liga Champions UEFA setelah mengalahkan Arsenal melalui adu pinalti dengan skor 1-1 (4-3). ANTARA FOTO/REUTERS/Phil Noble/kye

 

Mereka berhasil mematikan Bukayo Saka dan Leandro Trossard di kedua sayap serang Arsenal, dan saat bersamaan mendorong Declan Rice-Myles Lewis-Skelly di poros permainan Arsenal menjadi lebih fokus ke belakang untuk melapis pertahanan, ketimbang turut merancang serangan.

Meskipun begitu, pertahanan rapat Arsenal yang bertumpu pada William Saliba dan Gabriel Magalhaes serta keandalan kiper David Raya, menyulitkan pemain-pemain PSG dalam mengoptimalkan peluang.

PSG sampai dipaksa menggantungkan diri kepada gol penalti Ousmane Dembele untuk menyamakan kedudukan, setelah selama hampir satu jam diungguli Arsenal berkat gol cepat Kai Havertz.

PSG terus menggempur pertahanan lawan dan menguasai jalannya laga, tetapi Arsenal bertahan dengan disiplin tinggi hingga pertandingan harus berlanjut ke babak tambahan. Kebuntuan yang tak kunjung terpecahkan akhirnya memaksa final Liga Champions ditentukan melalui adu penalti, yang untuk pertama kalinya terjadi lagi dalam satu dekade sejak Real Madrid mengalahkan Atletico Madrid pada final 2016 di Milan.


Berkesinambungan

Otak dari sukses besar PSG ini adalah sudah pasti pelatih mereka, Luis Enrique. Dia telah mereformasi tim yang berantakan akibat terlalu banyak ego bertabrakan setelah menjadi tempat berkumpul para superstar, termasuk Neymar, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe.

Meskipun kehilangan para superstar, Luis Enrique justru membuat PSG menjadi tim yang jauh lebih baik yang bisa mengalahkan siapa pun.

Sejak Enrique bergabung dengan PSG pada 5 Juli 2023, Les Parisiens berubah menjadi tim yang padu di mana semua pemain merasa dibutuhkan, menyatu dalam satu nafas, dan memanggul beban yang sama untuk tim.

Enrique yang mulai melatih pada bulan dan tahun yang sama dengan Mbappe meninggalkan Paris untuk bergabung dengan Real Madrid, sukses mengerek PSG ke level yang tak pernah dirasakan klub ini sejak dibentuk 50 tahun silam pada 12 Agustus 1970.

Pada musim pertamanya bersama PSG, Enrique langsung mempersembahkan trebel berupa trofi juara Liga Prancis dan Piala Prancis. Dia juga membuat PSG merasakan semifinal Liga Champions pada 2024.

Pada musim keduanya setelah PSG melepas Mbappe ke Madrid, mantan pemain dan pelatih Barcelona serta timnas Spanyol itu, tak lagi membuat kekeliruan.

Dia memulihkan kembali supremasi PSG pada musim 2024/2025, untuk menjadi kampiun di dalam dan di luar Prancis.

Untuk kedua kalinya dia memandu PSG menjuarai lagi Ligue 1 Prancis dan Coupe de France.

Baca juga: PSG masuk daftar tim yang sukses pertahanan gelar juara Liga Champions

Sukses semakin indah dengan menjuarai juga Liga Champions setelah membantai Inter Milan 5-0 pada final pertama PSG dalam kompetisi elite Eropa itu.

Satu musim berikutnya, yakni musim ini, PSG tetap juara Liga Prancis, namun gagal mempertahankan trofi Piala Prancis yang musim ini dijuarai oleh Lens.

Namun, trebel kedua dalam tiga musim pertama Enrique bersama PSG tetap bisa dia rengkuh, dengan menjuarai kembali Liga Prancis dan mempertahankan gelar juara Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal dalam final melalui adu penalti.

Visi, inteligensia,keberanian, dan kepemimpinan Enrique telah mengubah skuad PSG begitu padu, solid, dan kuat.

Mereka tidak lagi bertumpu pada satu atau segelintir pemain bintang, melainkan kepada tim dan kerja tim.

Baca juga: PSG pertahankan gelar, tekuk Arsenal via adu penalti
 

Pemilik PSG, Nasser Al-Khelaifi, menegaskan bahwa klub telah banyak belajar dari kesalahan masa lalu. Ia menekankan bahwa superstar sejati PSG kini adalah tim, bukan individu pemain.

Perubahan pola pikir ini membuat PSG jauh berbeda dari sebelumnya. Klub ini tidak hanya solid di lapangan, tetapi juga telah bertransformasi menjadi institusi sepak bola yang kuat.

Bukan hanya itu, PSG kini menerapkan strategi yang mencakup jangka pendek, menengah, dan panjang. Dengan perspektif ini, kesuksesan saat ini tidak akan terputus, melainkan berlanjut secara berkesinambungan ke masa depan.

Dari sudut pandang tersebut, keberhasilan mempertahankan gelar juara Liga Champions menjadi sinyal kuat bagi Eropa dan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa PSG di bawah asuhan Luis Enrique siap mengikuti jejak klub raksasa seperti Real Madrid, atau pelatih top seperti Pep Guardiola, untuk tetap berada di puncak kompetisi dalam waktu yang lama.









Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Buah manis reformasi Paris Saint Germain di era Luis Enrique


Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026