Logo Header Antaranews Jogja

Bupati: Teknologi pertanian tingkatkan produktivitas panen di Bantul

Minggu, 31 Mei 2026 20:31 WIB
Image Print
Petani menggarap lahan pertanian di wilayah Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (ANTARA/Hery Sidik)

Yogyakarta (ANTARA) - Bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Abdul Halim Muslih mengatakan peran teknologi budidaya pertanian mampu meningkatkan produktivitas hasil panen para petani di wilayah Bantul sehingga menunjang pembangunan daerah sekaligus memudahkan dalam proses perawatan tanaman.

"Sektor pertanian di Kabupaten Bantul termasuk sektor strategis sebagai salah satu penunjang pembangunan daerah, sehingga produktivitasnya sangat diprioritaskan," kata Halim, di Yogyakarta, Minggu.

Menurutnya, kontribusi sektor pertanian di Bantul cukup besar dan bertumbuh dari segi produktivitas, seiring dengan pertumbuhan sektor lainnya seperti industri, perdagangan, jasa, hingga pariwisata.

"Dulu luas lahan pertanian kita lebih dari 30 ribu hektare, produktivitas rata-rata hanya sekitar 3-4 ton gabah kering per hektare, sekarang lahan pertanian tinggal sekitar 14 ribu hektare, justru produksi pertanian meningkat menjadi rata-rata 8 ton per hektare,” katanya.

Ia menjelaskan, peningkatan tersebut tidak terlepas dari peran teknologi pertanian, mulai dari penggunaan bibit unggul, pengolahan lahan, penerapan teknologi budidaya, hingga metodologi penanaman yang semakin maju.

"Teknologi budidaya pertanian dapat meningkatkan produktivitas petani, meskipun lahan pertanian semakin menyempit, produksi justru semakin besar," jelas Halim.

Tata ruang daerah, lanjut dia, juga harus terus diatur agar seluruh sektor ekonomi yang tumbuh di Bantul tidak berdampak atau mengorbankan sektor pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bantul Joko Waluyo menambahkan pemanfaatan teknologi pertanian di Bantul telah dilakukan beberapa tahun lalu, di antaranya melalui inovasi sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis IoT (Internet of Things).

"Teknologi itu diterapkan di lahan pertanian di daerah Kretek, Parangtritis, Bantul dan beberapa daerah lainnya," katanya.

Menurutnya, mayoritas lahan yang menerapkan teknologi tersebut ditanami tanaman cabai dan bawang merah yang tidak hanya menyirami tetapi sekaligus memberi pupuk dan tambahan nutrisi.

"Itu bisa menyemprotkan obat hama maupun pupuk," kata Joko.

Selain penyiraman, lanjut dia, digitalisasi juga merambah pada proses jual beli, yakni dengan salah satu aplikasi lelang hasil panen.yang diterapkan oleh petani di Imogiri, Sanden, Kretek dan beberapa daerah lainnya.

"Memang penggunaan teknologi digital pertanian belum masif, masih kurang dari 50 persen," katanya.

Namun, lanjut Joko, ia optimis modernisasi sektor pertanian bisa terus berjalan seiring perkembangan waktu untuk memudahkan perawatan dan menyelesaikan permasalahan pada tanaman dengan cepat.

"Dengan adanya aplikasi itu, kan informasi bisa cepat sampai, sehingga permasalahan di lapangan cepat terselesaikan," kata Joko.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026