Logo Header Antaranews Jogja

MES DIY mendorong generasi muda jadi penggerak inovasi ekonomi syariah digital

Rabu, 3 Juni 2026 19:58 WIB
Image Print
Sejumlah narasumber menyampaikan materi pada Seminar Nasional SEA-SUKA 5.0 bertajuk "Digital Innovation in Sharia Economic Systems: Strengthening Resilience and Expanding Inclusive Growth" yang diselenggarakan Forum Studi Ekonomi dan Bisnis Islam (ForSEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA/HO-UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta (ANTARA) - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mendorong transformasi ekonomi syariah di era digital.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional SEA-SUKA 5.0 bertajuk "Digital Innovation in Sharia Economic Systems: Strengthening Resilience and Expanding Inclusive Growth" yang diselenggarakan Forum Studi Ekonomi dan Bisnis Islam (ForSEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu.

"Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian "Sharia Economics Advancement Sunan Kalijaga (SEA-SUKA) 5.0, sekaligus memperingati Milad ForSEBI ke-24 dan Milad FoSSEI ke-26," kata Wakil Ketua MES DIY Dr Priyonggo Suseno.

Kegiatan yang turut menghadirkan narasumber Direktur Program LAZ MKU, Arif Yulianto ini Seminar dihadiri ratusan mahasiswa, akademisi, pegiat ekonomi syariah, serta anggota Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) dari berbagai perguruan tinggi yang membahas peluang, tantangan, serta strategi penguatan ekonomi syariah melalui inovasi dan transformasi digital.

Priyonggo Suseno menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia.

"Generasi muda memiliki posisi strategis untuk menjadi inovator yang mampu mengembangkan berbagai model bisnis dan layanan keuangan syariah berbasis teknologi," katanya.

Menurut dia, transformasi digital bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir, berinovasi, dan berkolaborasi.

"Mahasiswa harus menjadi pelaku utama yang menghadirkan solusi bagi pengembangan ekonomi syariah Indonesia," katanya.

Ia mengatakan berbagai inovasi ekonomi syariah digital saat ini terus berkembang, mulai dari fintech syariah, equity crowdfunding syariah, pembayaran digital syariah, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga integrasi keuangan sosial Islam melalui instrumen zakat dan wakaf produktif berbasis digital.

Sementara Arif Yulianto menyoroti pentingnya kolaborasi antara lembaga filantropi Islam, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang lebih inklusif dan berdampak luas bagi masyarakat.

Ketua ForSEBI UIN Sunan Kalijaga Muhammad Ayatullah Nur Ridho menyampaikan harapan agar ilmu ekonomi syariah yang dipelajari mahasiswa tidak berhenti pada tataran teori.

"Harapan untuk kita semua khususnya mahasiswa, semoga teori yang dipelajari oleh KSEI tentang keuangan syariah tidak hanya berhenti di ruang diskusi atau kelas semata, namun bisa disalurkan kepada masyarakat," katanya.

Presidium Nasional FoSSEI, Backtiar Akmal mengatakan momentum Milad FoSSEI ke-26 menjadi sarana untuk memperluas literasi ekonomi syariah kepada masyarakat.

"Perayaan Milad FoSSEI yang ke-26 ini kita ramaikan dengan salah satu agenda yaitu Kampanye Nasional yang akan diisi dengan aksi literasi di berbagai sekolah di Indonesia. Harapannya, ekonomi syariah dapat menggaung lebih luas dan menjangkau masyarakat sejak dini," katanya.

Pada kesempatan yang sama Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga Dr Ibi Satibi, S.H.I M.Si menegaskan komitmen kampus dalam memperkuat pengelolaan dana sosial Islam, khususnya zakat, untuk mendukung program pendidikan dan kesejahteraan mahasiswa.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026