Logo Header Antaranews Jogja

BMKG siapkan 30 kegiatan sekolah tingkatkan adaptasi korban bencana

Kamis, 4 Juni 2026 16:57 WIB
Image Print
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kiri) memberikan penjelasan terkait rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat selepas siniar ANTARA TV di Gedung ANTARA Heritage Center, Jakarta, Kamis (4/6/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengagendakan pelaksanaan 30 kegiatan sekolah lapang kedaruratan guna memperkuat mitigasi dan kapasitas adaptasi masyarakat di wilayah Pulau Sumatera.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani saat ditemui di ANTARA Heritage Center Jakarta, Kamis, mengatakan rangkaian program edukasi tersebut mencakup Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Iklim (SLI), serta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG).

"Iya, kami rencananya ada 30 kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim dan gempa, tsunami juga," kata dia.

Fathani menjelaskan sasaran geografis pelaksanaan paket program literasi kebencanaan dan iklim pada tahun ini difokuskan pada sejumlah kawasan rawan bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan sebagian wilayah Sumatera Utara.

Operasi edukasi berskala masif di wilayah barat Indonesia ini bergulir melalui skema pendanaan khusus, yang ditopang secara langsung oleh Instruksi Presiden guna merespons kebutuhan mendesak di tiga daerah itu.

Adapun Aceh, Sumut dan Sumbar sebelumnya dilanda bencana banjir bandang - tanah longsor dengan dampak yang sangat masif akhir November 2025. Merujuk data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dilaporkan ada 1.189 korban meninggal dunia, 148 orang hilang, lebih dari 5.400 orang luka-luka, sekitar 157.800 rumah mengalami kerusakan, serta 3.222 fasilitas dan infrastruktur publik terdampak.

Fathani menambahkan bahwa untuk jumlah kepesertaan, BMKG menargetkan kuota kumulatif berkisar antara 1.500 hingga 2.000 partisipan, dimana tiap-tiap daerah pelaksanaan akan diisi oleh kelompok belajar beranggotakan sekitar 50 orang.

Program Sekolah Lapang jilid baru ini didesain menggunakan metode kombinasi antara masyarakat umum dan aparat kewilayahan, seperti kepala desa-sekretaris desa (sekdes), serta penyuluh lapangan yang diproyeksikan sebagai motor penggerak atau trainer of trainers (ToT).

Melalui keterlibatan para tokoh masyarakat dan pimpinan lokal tersebut, BMKG berharap diseminasi informasi cuaca, iklim, serta kesiapsiagaan tsunami dapat tersebar lebih cepat dan akurat hingga di masing-masing desa.

"Semua, tahun ini memang sedang berproses pendanaannya. Dari instruksi Bapak Presiden, kegiatan-kegiatan tambahan yang kita lakukan di sana itu mendapat pendanaan khusus," kata Teuku Fathani.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BMKG siapkan 30 kegiatan sekolah tingkatkan adaptasi korban bencana



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026