
Dosen UMY mengingatkan risiko penyakit mematikan akibat belum imunisasi

Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dokter Bambang Edi Susyanto memperingatkan adanya risiko penyakit mematikan bagi jutaan anak di Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi dasar atau zero-dose.
"Anak zero-dose adalah anak yang hingga usia sekitar satu tahun belum memperoleh imunisasi sesuai jadwal. Ini adalah ancaman serius bagi kesehatan dan tumbuh kembang generasi muda kita," katanya dalam keterangan di Yogyakarta, Jumat.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2025, Indonesia tercatat menempati peringkat keenam dunia dengan jumlah anak zero-dose mencapai sekitar 2,3 juta jiwa. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena berpotensi memicu munculnya kembali berbagai penyakit menular berbahaya yang seharusnya dapat dicegah.
Ia menjelaskan imunisasi merupakan intervensi kesehatan paling efektif untuk mencegah penyakit infeksi dengan tingkat komplikasi tinggi hingga risiko kematian.
Sebagai contoh, katanya, imunisasi BCG penting untuk mencegah tuberkulosis berat, sedangkan imunisasi DPT vital untuk menangkal difteri, pertusis, dan tetanus.
Menurut dia, ketika cakupan imunisasi rendah, risiko penyebaran penyakit infeksi di masyarakat meningkat tajam.
Ia menegaskan imunisasi adalah investasi kesehatan yang efektif secara biaya, di mana manfaat perlindungan yang dihasilkan jauh melampaui biaya maupun efek samping ringan pasca-vaksinasi.
"Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kuat perlindungan yang terbentuk di masyarakat. Kesadaran orang tua untuk segera melengkapi jadwal imunisasi anak adalah langkah krusial yang tidak boleh ditunda," katanya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemberian vaksin bagi "buah hati" mereka guna memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan optimal.
Peningkatan cakupan imunisasi nasional, katanya, menjadi kunci utama menjaga kesehatan generasi masa depan serta mengendalikan kembali penyakit-penyakit yang sebenarnya sudah dapat dicegah melalui vaksinasi.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
