
BPS DIY catat penurunan nilai impor 27,63 persen pada April 2026

Yogyakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat nilai impor produk dari provinsi ini pada April 2026 sebesar 12,70 juta dolar AS, atau menurun sebanyak 27,63 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya impor bahan baku dan barang penolong sebesar 27,84 persen secara tahunan," kata pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih dalam keterangan di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, golongan barang yang mendominasi impor DIY selama periode Januari hingga April 2026 adalah kain rajutan dengan peran sebesar 28,06 persen terhadap total impor.
Selain itu, impor juga didominasi oleh filamen buatan, kain tekstil dilapisi atau dilaminasi, kain tenunan khusus, serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.
"Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar impor DIY masih berfungsi sebagai penunjang kegiatan industri pengolahan, khususnya industri tekstil dan produk turunannya," katanya.
Endang menjelaskan berdasarkan negara asal, Tiongkok menjadi pemasok utama impor DIY dengan nilai mencapai 20,37 juta dolar AS atau sekitar 40,17 persen dari total impor.
Kemudian diikuti negara Hong Kong sebesar 9,94 juta dolar AS dan Amerika Serikat sebesar 5,29 juta dolar AS.
"Ketiga negara tersebut memasok sekitar 70 persen kebutuhan impor DIY selama periode Januari–April 2026," katanya.
Lebih lanjut, kombinasi pertumbuhan ekspor dan penurunan impor mendorong surplus neraca perdagangan DIY semakin menguat. Selama Januari–April 2026, surplus perdagangan mencapai 156,12 juta dolar AS, meningkat dibanding periode yang sama pada 2025 yang sebesar 110,45 juta dolar AS.
"Amerika Serikat, Australia, dan Jerman menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar, sedangkan defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok, Taiwan, dan Hong Kong," katanya.
Endang menjelaskan, secara umum, perkembangan perdagangan luar negeri DIY pada awal tahun 2026 menunjukkan daya saing produk ekspor daerah yang tetap kuat di tengah dinamika perdagangan global.
"Pertumbuhan ekspor berbasis industri pengolahan, didukung impor yang sebagian besar berupa bahan baku dan barang penolong untuk kegiatan produksi, menjadi faktor utama kinerja perdagangan DIY tetap positif dan menghasilkan surplus neraca perdagangan yang semakin besar," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
