Logo Header Antaranews Jogja

Dispar DIY selenggarakan pelatihan kompetensi pelaku ekraf pembuatan batik cap

Senin, 8 Juni 2026 19:35 WIB
Image Print
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY Iwan Pramana (ANTARA/Hery Sidik)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian mengadakan pelatihan kompetensi bagi pelaku ekonomi kreatif tentang pembuatan batik cap.

"Pelatihan pembuatan batik cap ini kita ambil karena untuk mengejar jumlah produksinya sehingga mungkin batik cap lebih bisa diproduksi secara massal," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar DIY Iwan Pramana usai membuka pelatihan di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, pelatihan yang diikuti puluhan pelaku ekonomi kreatif sektor batik selama beberapa hari ke depan ini merupakan kegiatan yang kesekian kalinya pada tahun 2026, dalam rangka mendorong tumbuhnya sektor kerajinan batik di DIY.

Sebelumnya juga telah diadakan pelatihan berbasis kompetensi terkait dengan pembuatan malam (lilin batik), pelatihan untuk pewarna alam, kemudian pelatihan desain batik, bahkan setelah pelatihan ada fasilitasi sertifikasi bagi pelaku batik.

"Kami juga mengajarkan desain-desainnya juga. Jadi nanti mungkin di samping motif yang pakem-pakem yang sudah ada, nanti ada juga di batik cap juga yang bisa. Jadi dapat memproduksi batik yang lebih menarik lagi kepada masyarakat," katanya.

Iwan mengatakan kegiatan di bidang pengembangan ekonomi kreatif ini, juga sebagai upaya instansi yang mempunyai kewajiban meningkatkan sumber daya manusia (SDM) termasuk kreativitas dari para pelaku ekraf khususnya perajin batik.

Pihaknya berharap batik cap dengan desain yang menarik bisa diproduksi secara massal atas jumlah banyak, dan menjadi pilihan bagi masyarakat pecinta batik selain batik tulis yang diproduksi dengan waktu lama karena diproduksi secara tradisional.

"Kalau secara angka kami belum bisa, karena pelaku batik banyak ya, tapi paling enggak dengan batik yang produksi mungkin lebih cepat dibandingkan kalau batik tulis yang biasa sampai tiga bulan untuk satu batik," katanya.

Dia juga mengatakan batik cap yang dijual dengan harga lebih terjangkau dibandingkan dengan batik tulis diharapkan nantinya dapat meningkatkan omzet atau penghasilan para pelaku ekonomi batik tersebut

"Ya kalau kita sih maunya sesuai dengan ini ya, maksudnya jangan terlalu murah karena itu juga menyangkut pendapatan dari pelaku batik. Paling tidak mungkin 'worth it' atau sesuai dengan desain-desain yang mereka hasilkan nanti harganya," katanya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026