Logo Header Antaranews Jogja

Ahli dermatologi ingatkan jangan tunda tangani kerontokan rambut

Selasa, 9 Juni 2026 16:09 WIB
Image Print
Dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE dalam acara Grand Opening Nallura Clinis di Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Niswah Qintara Rahmani)

Jakarta (ANTARA) - ‎‎Kerontokan rambut bukan sekadar masalah penampilan melainkan kondisi medis yang bisa terjadi sejak usia dua puluhan, keterlambatan diagnosis dan kesalahan penanganan bisa memperburuk keadaan serta mempersempit peluang pemulihan.

‎"Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Menunda penanganan berarti kehilangan kesempatan itu," kata dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, dalam acara Grand Opening Nallura Clinic di Jakarta Selatan

‎Ia menjelaskan, penyebab kerontokan rambut jauh lebih beragam dari yang banyak orang kira. Genetik dan hormon menjadi faktor terbesar dengan kontribusi 35 persen dari seluruh kasus. Disusul stres sebesar 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan PCOS sebesar 5 persen.

‎"Yang dikatakan normal rambut yang rontok adalah sebanyak 50-100 helai. Kalau lebih dari 100 helai dalam sehari, itu dikatakan tidak normal," kata dr. Elisabeth.

‎Pola kerontokan pada pria dan wanita pun berbeda secara klinis. Pada pria, kerontokan bermula dari garis rambut yang mundur dan penipisan di ubun-ubun, dan dapat muncul sejak usia 20-an akibat pengaruh hormon DHT (dihidrotestosteron) serta faktor genetik yang bahkan bisa berujung pada kebotakan total jika dibiarkan.

‎Sementara pada wanita, kerontokan lebih terlihat dari bagian tengah kepala yang semakin menipis melebar, dan dapat dipicu oleh ketidakseimbangan hormon seperti PCOS, menopause, stres, hingga kekurangan nutrisi.

‎Ia menekankan pentingnya diagnosis sebelum terapi. Menurutnya, tidak semua kerontokan cocok dengan satu jenis perawatan, dan pemilihan yang keliru justru bisa memperburuk kondisi serta membuang waktu dan biaya pasien.

‎"Kerontokan rambut itu tidak semuanya sama. Terapi yang salah bisa memperburuk kondisi dan hanya menghabiskan waktu serta uang," tegasnya.

‎Nallura Clinic menangani kerontokan dengan pendekatan personal, dimulai dari diagnosis trikoskopi berbasis AI hingga rangkaian perawatan seperti PRP, laser Fotona, dan Regenera Activa EVO Dermomine, yaitu teknologi cangkok mikro yang mengekstrak faktor pertumbuhan langsung dari kulit kepala pasien.

‎"Rambut yang sehat itu adalah sebuah perjalanan. Di sini, pasien tidak akan sendirian, kita lakukan konsultasi dan evaluasi rutin setiap bulan untuk memantau perkembangan," ujar dr. Elisabeth.

‎Nallura Clinic hadir sebagai klinik gaya hidup yang mengusung filosofi happy aging, bukan sekadar tampil muda, melainkan tetap sehat, aktif, dan percaya diri di setiap fase kehidupan. Klinik ini menawarkan layanan menyeluruh mulai dari perawatan rambut, estetika kulit, kesehatan gigi, hingga manajemen berat badan dalam satu atap.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kerontokan rambut dan akibat menunda penanganan



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026