Logo Header Antaranews Jogja

Unisa Yogyakarta: ICAS 2026 konsolidasi pemikiran perempuan muslim

Kamis, 11 Juni 2026 19:32 WIB
Image Print
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat "Aisyiyah" Tri Hastuti Nur Rochimah. ANTARA/Sutarmi

Sleman (ANTARA) - Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menyelenggarakan International Conference on Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 dalam rangka ruang strategis bagi perempuan Muslim untuk melakukan konsolidasi pemikiran dan kolaborasi global dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat "Aisyiyah" Tri Hastuti Nur Rochimah di Sleman, Kamis, menegaskan perempuan Muslim merupakan agen perubahan utama dalam merespons krisis global, seperti konflik bersenjata, kemiskinan ekstrem, hingga krisis iklim.

"Selama 109 tahun, perempuan telah membuktikan perannya dalam mengatasi konflik, mengentaskan kemiskinan, serta menjaga lingkungan. Aisyiyah hadir dengan semangat dakwah lintas batas untuk membangun peradaban yang menjunjung keadilan dan perdamaian," ujar Tri Hastuti.

Konferensi internasional ini mengangkat tema "“Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization”". Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-109 'Aisyiyah, 35 tahun Unisa Yogyakarta, dan 100 tahun Majalah Suara 'Aisyiyah.

Tri menyoroti ancaman ketidakadilan ekologis yang memandang bumi hanya sebagai objek eksploitasi, yang berdampak pada krisis pangan dan hilangnya biodiversitas. Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital agar kelompok perempuan mampu memanfaatkan teknologi tanpa terjebak dampak negatif seperti hoaks dan kekerasan berbasis gender.

Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti menambahkan konferensi ini merupakan ikhtiar intelektual menuju Muktamar 'Aisyiyah 2027 dan menurutnya dunia saat ini membutuhkan kepemimpinan perempuan yang adil dan berkelanjutan di tengah ketimpangan sosial dan berbagai krisis kemanusiaan.

"Kepemimpinan perempuan berkemajuan adalah kunci dalam pembangunan peradaban yang berkeadaban. Unisa Yogyakarta, sebagai perguruan tinggi yang lahir dari gerakan perempuan, berkomitmen penuh melanjutkan semangat pemberdayaan melalui pendidikan dan penelitian," kata Warsiti.

Ketua Pelaksana ICAS 2026 Alimatul Qibtiyah menyampaikan antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi dengan total 115 makalah lengkap yang masuk dari akademisi, peneliti, dan praktisi di dalam maupun luar negeri.

Hasil pemetaan menunjukkan tiga kecenderungan utama kajian akademis kontemporer, yakni transformasi digital dan otoritas keagamaan, penguatan studi sejarah 'Aisyiyah, serta jihad ekologis dan keberlanjutan lingkungan.

"Distribusi makalah dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan semakin luasnya jangkauan Studi 'Aisyiyah dan berkembangnya jaringan akademisi yang menaruh perhatian pada kepemimpinan perempuan Muslim," jelas Alimatul.

Penyebaran makalah tersebut mencakup wilayah Jawa dengan 40 makalah, Sumatera 20 makalah, Sulawesi 18 makalah, Kalimantan 12 makalah, serta Nusa Tenggara sebanyak tujuh makalah.

Konferensi yang diselenggarakan secara hibrida di Unisa Yogyakarta ini melibatkan delapan kelas paralel luring dan tujuh kelas paralel daring.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan rekomendasi kebijakan strategis bagi pembangunan masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Melalui jejaring kolaborasi global, ICAS 2026 diharapkan dapat memperkuat kiprah perempuan Muslim dalam menavigasi perubahan teknologi dan mendefinisikan ulang peran mereka di era digital.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026