Logo Header Antaranews Jogja

Sleman gandeng lintas sektor antisipasi dampak kenaikan harga BBM

Kamis, 11 Juni 2026 19:41 WIB
Image Print
TPID Sleman memantau harga dan stok kebutuhan pokok di Pasar Sleman. ANTARA/HO-Disperindag Sleman

Sleman (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bergerak cepat menggandeng jajaran lintas sektor guna mengantisipasi potensi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok di masyarakat.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Sleman Makwan di Sleman, Kamis, menjelaskan langkah tersebut dilakukan menyusul kebijakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter per 10 Juni 2026.

"Kami baru hari ini mau mengundang lintas sektor untuk membicarakan dampak BBM ini akan seperti apa, dan langkah apa yang harus segera kita lakukan," katanya.

Menurut dia koordinasi lintas sektor ini sangat krusial mengingat dampak dari penyesuaian harga BBM memiliki dimensi yang luas dan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Guna mendapatkan formula kebijakan yang tepat, Pemkab Sleman terlebih dahulu akan memetakan kondisi riil di lapangan.

Melalui koordinasi tersebut Pemkab Sleman menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat untuk memperketat pemantauan harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional. Selain itu, pengecekan ketersediaan stok di gudang Bulog juga menjadi prioritas utama.

"Kami harus memotret dulu seberapa dampak yang mungkin terjadi. Kami juga meminta teman-teman Perindag untuk memantau harga bahan pokok di pasar, serta memastikan pasokan dan ketersediaan di Bulog," tuturnya.

Selain sektor perdagangan, Pemkab Sleman memastikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memegang peranan penting dalam pengawasan ini.

Pemantauan tidak hanya terbatas pada komoditas pangan, melainkan mencakup seluruh sektor yang sensitif terhadap perubahan harga BBM, termasuk sektor transportasi umum dan pertanian.

"Semua sektor nanti akan dipantau, termasuk transportasi. Kita kan punya layanan seperti bus sekolah, itu juga harus disesuaikan. Di sektor pertanian, pengolahan lahan yang menggunakan alat berat seperti traktor juga membutuhkan BBM," katanya menambahkan.

Sebelum adanya penyesuaian harga BBM, Pemkab Sleman mencatat kondisi harga dan stok pangan di wilayahnya relatif aman dan stabil. Kenaikan harga yang terjadi hanya bersifat fluktuatif pada komoditas tertentu seperti cabai merah dan bawang merah akibat faktor musiman.

Kendati stok pangan saat ini dipastikan aman, Pemkab Sleman tetap mewaspadai adanya potensi migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi yang dapat memicu kelangkaan kuota di lapangan.

"Kalau untuk saat ini stok aman, beras aman. Tapi kita kan belum tahu, ketika ada yang biasa beli Pertamax kemudian beralih ke Pertalite, apakah kuota Pertalite akan naik atau tidak. Kita belum tahu dan harus melihat datanya," jelasnya.

Pemkab Sleman menargetkan koordinasi intensif bersama TPID dan instansi teknis terkait ini dapat rampung pada pekan depan.

"Hal tersebut dilakukan agar pemerintah daerah dapat segera melahirkan kebijakan yang berbasis data (data-driven) demi menjaga daya beli masyarakat Sleman," katanya.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026