
Petani di Kulon Progo diimbau lakukan efisiensi pupuk nonsubsidi

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau para petani untuk melakukan efisiensi penggunaan hara sebagai langkah mitigasi menyusul lonjakan harga pupuk nonsubsidi di tingkat pedagang.
Analis Pasar Hasil Pertanian Ahli Muda Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Kirmi di Kulon Progo, Jumat, menegaskan bahwa petani perlu menerapkan teknik budidaya yang lebih presisi agar setiap butir pupuk yang dibeli dengan harga tinggi dapat terserap maksimal oleh tanaman dan didukung oleh kesehatan tanah yang baik.
"Kunci menghadapi kenaikan harga ini adalah efisiensi hara. Bukan berarti harus berhenti menggunakan pupuk kimia, melainkan memastikan pemanfaatannya optimal dan didukung perbaikan kesehatan tanah dengan bahan organik," kata Kirmi.
Ia menyarankan lima langkah strategis, yakni pengembangan pertanian berimbang atau semi-organik, penerapan pemupukan metode tugal atau kocor untuk mengurangi tingkat kehilangan pupuk, serta pemanfaatan sisa hasil panen seperti jerami sebagai biomasa.
Selain itu, petani juga didorong menerapkan sistem tanam jajar legowo serta mengoptimalkan peran kelembagaan kelompok untuk akses pupuk bersubsidi.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul kenaikan harga pupuk non-subsidi yang terpantau melonjak hingga hampir 100 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Penanggung jawab toko bahan pertanian di Kapanewon Lendah, Tholib Burhan mengatakan harga pupuk Nitrea dan ZA kini menembus Rp365.000 per karung, dari harga sebelumnya Rp200.000.
"Kenaikan ini dipicu oleh dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga BBM, serta fluktuasi nilai tukar Rupiah karena mayoritas pupuk non-subsidi merupakan barang impor," jelas Tholib.
Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada membengkaknya ongkos operasional petani.
Maryoto, seorang petani di Bumirejo, mengaku kini harus berhemat dengan membeli pupuk secara eceran dan mengubah metode pemupukan menjadi sistem kocor.
"Cara penggunaan berubah, pupuk dicampur air baru disiramkan agar tidak terbuang percuma. Kami sangat berharap ada kebijakan yang dapat menekan harga agar modal operasional lebih terjangkau," kata Maryoto.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah terus berupaya mendampingi petani melalui penyuluh lapangan untuk memastikan teknik budidaya yang diterapkan mampu menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas hasil panen hortikultura.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
