
Belanda vs Jepang: Tarung kelas atas yang janjikan keseruan optimal

Jakarta (ANTARA) - Ini adalah pertemuan dua tim yang sama-sama memuja sepak bola menyerang dan percaya kepada build up sebelum menginvasi daerah pertahanan lawan atau sebelum bola bersarang di gawang lawan. Mereka sama-sama meninggikan kerja tim pada tingkat maksimum.
Belanda bersandar kepada taktik bermain di mana semua pemain bergerak fleksibel nan cair tak terpaku pada posisi aslinya, dalam filosofi yang luas dikenal sebagai "total football".
Ini adalah gotong-royong versi Belanda sekaligus simbol ekualitas peran manusia untuk mencapai satu tujuan, yang merupakan cara hidup orang Belanda yang juga merasuki bagaimana sepak bola dimainkan.
Jepang juga begitu. Sepak bola mereka berakar dari budaya bahwa masyarakat terikat dan tergantung satu sama lain, sembari meminimalkan individualitas.
Sepak bola menyerang mereka asyik untuk disaksikan karena diimbuhi aura gembira karena bagi Jepang, sepak bola harus dimainkan untuk membawa kebahagiaan kepada masyarakat.
Caranya bagaimana? Dengan menggabungkan keunggulan teknis, disiplin budaya yang mengakar kuat, dan kerja tim yang amat kolektif.
Belakangan ini Jepang mengembangkan konsep sepak bola yang mereka namai dengan "Japan's Way", yang salah satu tujuan besarnya adalah menjuarai Piala Dunia suatu ketika.
Mereka mengaplikasikan filosofi dan gagasan itu dalam sistem bermain 4-2-3-1 yang acap bermetamorfosis menjadi 3-2-4-1 atau bahkan 3-4-3 ketika Samurai Biru mendominasi lalu lintas bola.
Jepang menggabungkan taktik sepak bola ala Eropa, dengan umpan teknis yang dinamis, rotasi spasial yang lancar, dan penekanan pada pressing yang mencekik lawan.
Apakah saat melawan Belanda nanti Moriyasu akan mengadopsi cara bermain seperti itu?
Kemungkinan besar ya. Tapi Moriyasu juga pelatih yang tidak kaku.
Di banyak kesempatan dia malah terbuka beradaptasi dengan jenis lawan yang dihadapi timnya. Dia malah sering memainkan pola 4-2-3-1 dan 4-3-3.
Ronald Koeman di pihak Belanda juga pelatih yang tidak kaku dan sebaliknya pragmatis.
Baca juga: Australia bungkam Turki 2-0 dalam laga Grup D
Sulit ditembus tapi bukan low block
Seharusnya Koeman setia dengan pola 4-3-3 yang sudah menjadi formula standar "total football" di mana pergerakan tim mengandalkan pemain sayap yang menjaga garis pinggir lapangan, alih posisi pemain yang fleksibel, dan menekankan penguasaan bola.
Tapi Koeman juga sering memakai pola tiga bek tengah dalam formasi 3-5-2 atau 3-4-3 untuk mempersolid struktur pertahanan tatkala diperlukan.
Koeman akan memakai pola yang disesuaikan dengan kekuatan skuadnya, dan jenis lawan yang dihadapi Oranje.
Jadilah pertemuan Belanda dan Jepang ini menjadi pertarungan adu taktik yang seru, yang akan memiliki resonansi ke pertarungan yang sama sengit di lapangan.
Tetapi ini bukan pertemuan klasik, karena kedua tim jarang bertemu, baik dalam arena kompetitif, maupun dalam laga persahabatan.
Pertemuan mereka di Dallas pada Senin dini hari pukul 03.00 WIB esok adalah pertemuan kedua Belanda dan Jepang dalam putaran final Piala Dunia setelah Piala Dunia 2010 ketika Jepang menyerah 0-1 pada fase grup.
Total, kedua tim sudah bertemu tiga kali sebelum pertemuan di Grup F Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, negara bagian Texas. Dua pertemuan lain berakhir seri dan kemenangan untuk Belanda.
Oranje boleh bangga dengan catatan itu, apalagi resume Piala Dunia mereka jauh lebih mentereng ketimbang Samurai Biru, karena tiga kali hampir menjuarai Piala Dunia kala menjadi finalis edisi 1974, 1978, dan 2010.
Jepang sendiri tak pernah bisa melangkah lebih jauh dari babak 16 besar dalam delapan edisi sebelumnya, termasuk ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002.
Meskipun demikian Belanda mesti tahu bahwa warna dan bentuk tim Samurai Biru edisi ini sudah sangat berubah.
Belakangan ini samurai Jepang sudah banyak merenggut korban, tak saja tim-tim Asia yang diberondong habis dengan total 54 gol selama babak kualifikasi hingga Jepang menjadi tim pertama di dunia di luar tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang lolos ke Piala Dunia 2026.
Jepang juga memiliki struktur pertahanan yang kuat yang bukan dibangun di atas sistem bermain "low block", melainkan pressing tak henti baik saat membawa bola maupun kala kehilangan bola. Buktinya, selama kualifikasi zona Asia mereka hanya kebobolan tiga kali.
Penampilan Ko Itakura cs juga semakin menyeramkan dari hari ke hari, sampai memenangkan seluruh dari enam laga persahabatan sebelum kickoff Piala Dunia 2026.
Baca juga: Pratinjau Jerman melawan Curacao
Selalu bisa bahayakan lawan
Korbannya pun tak main-main, karena termasuk Brasil dan Inggris yang merupakan para mantan juara dunia dan favorit juara Piala Dunia 2026. Kedua tim menyerah 2-3 dan 0-1 kepada Jepang dalam laga persahabatan.
Sayang, Jepang tak lagi diperkuat Wataru Endo yang sudah pensiun dari timnas, dan Kaoru Mitoma yang cedera.
Tapi Moriyasu tak membentuk tim yang bersandar pada satu dua pemain, melainkan tim yang memiliki chemistry kuat yang merasakan timnya terikat dalam satu keluarga.
Lagi pula dia masih memiliki Ayase Ueda yang meraih Sepatu Emas di Liga Belanda, selain Takehiro Tomiyasu, Takefusa Kubo, Daichi Kamada, Maya Yoshida dan Ao Tanaka.
Mereka adalah bagian dari 23 pemain Jepang yang bermain di berbagai klub Eropa, yang dibawa Moriyasu ke Piala Dunia 2026. Tiga pemain lain berasal dari liga domestik Jepang.
Jika Jepang semakin menunjukkan aura perkasa, tidak demikian dengan Belanda.
Walau tak pernah kalah selama babak kualifikasi sampai memuncaki grupnya untuk lolos otomatis ke Piala Dunia 2026, penampilan Virgil van Dijk cs agak menurun justru ketika Piala Dunia 2026 sudah semakin dekat.
Mereka tumbang 0-1 di tangan Aljazair di Rotterdam pada 3 Juni. Lalu menang susah payah 1-2 dari debutan Uzbekistan pada laga persahabatan terakhir.
Belanda memang tidak tampil maksimal dalam kedua pertandingan itu, tapi tetap mampu menciptakan banyak peluang emas yang seharusnya bisa memenangkan kedua laga itu dengan skor telak.
Pemain-pemain mereka, khususnya Crysencio Summerville dan Donyell Malen, terlalu sering menyia-nyiakan peluang.
Tapi, bahkan dalam keadaan itu, Malen dan Summerville, memberi pesan kepada lawan-lawan Belanda bahwa pemain-pemain Oranje, termasuk Cody Gakpo dan Justin Kluvert, selalu bisa berada di posisi-posisi berbahaya. Jepang harus tahu hal ini.
Seri mungkin hasil yang paling mungkin dari laga ini. Tapi jika kemenangan menjadi konklusi dari pertandingan ini, maka kecil kemungkinan terjadi dalam skor yang mencolok.
Baca juga: Pratinjau Swedia melawan Tunisia
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Belanda vs Jepang: Tarung kelas atas yang janjikan keseruan optimal
Pewarta : Jafar M Sidik
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026
