Logo Header Antaranews Jogja

Dinpar Bantul: Melemahnya rupiah menjadi peluang menggaet wisman

Minggu, 14 Juni 2026 20:36 WIB
Image Print
Arsip foto- Salah satu tempat rekreasi/objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Kabupaten Bantul, Ahad (19/10/2020). ANTARA/Syamsuddin Hasan/aa

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa menjadi peluang untuk menggaet kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke daerah tersebut karena biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi turis asing.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Saryadi mengatakan hingga saat ini pihaknya memang belum memiliki data yang menunjukkan dampak langsung pelemahan rupiah terhadap peningkatan kunjungan wisman ke Bantul.

"Artinya, dampak pelemahan rupiah terhadap kunjungan wisman di Bantul belum terlihat secara signifikan, situasi pelemahan rupiah juga baru terjadi beberapa waktu yang lalu," kata Saryadi, di Yogyakarta, Minggu.

Namun, menurut dia, kondisi saat ini bisa memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata, sebab wisatawan asing yang membawa dolar akan memperoleh nilai tukar lebih tinggi ketika dibelanjakan di Indonesia sehingga biaya perjalanan menjadi lebih efisien.

"Biaya operasional untuk berwisata ke Indonesia menjadi lebih efisien, sehingga peluangnya terbuka," katanya.

Selain berpotensi menarik wisatawan asing, pelemahan rupiah juga dinilai dapat mendorong wisatawan domestik untuk lebih banyak berwisata di dalam negeri dibandingkan ke luar negeri yang membutuhkan biaya lebih besar akibat kenaikan kurs dolar.

"Secara teori, seharusnya pelemahan rupiah itu dari sisi dalam negeri memicu orang untuk lebih banyak membelanjakan uangnya ke dalam negeri, termasuk mau berwisata ke luar negeri juga menjadi mahal, toh," katanya.

Namun, menurut Saryadi, jumlah kunjungan wisman ke Bantul selama ini masih relatif kecil dibandingkan wisatawan lokal.

"Wisman yang mengunjungi destinasi wisata di Bantul dalam satu tahun sekitar seribuan," kata Saryadi.

Untuk meningkatkan kunjungan wisman, Dinpar Bantul terus memperkuat promosi melalui berbagai kanal, baik digital maupun kerja sama dengan pelaku industri pariwisata.

Menurut dia, promosi melalui media sosial dinilai cukup efektif karena dapat menjangkau audiens yang lebih luas hingga ke luar negeri dengan biaya yang relatif terjangkau.

"Kami juga menghubungkan konten-konten promosi dengan akun-akun pariwisata yang memiliki banyak pengikut, seperti akun Visiting Jogja dan akun wisata lainnya," katanya.

Selain itu, Dinpar Bantul juga menggandeng Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) untuk memperluas promosi destinasi wisata daerah kepada pasar mancanegara.

"Kami bekerja sama dengan ASITA, materi promosi kami dititipkan kepada teman-teman ASITA yang memiliki jaringan dan jangkauan wisatawan hingga ke luar negeri," kata Saryadi.

Saryadi mengatakan wisatawan mancanegara khususnya dari negara-negara non-Asia seperti kawasan Eropa, Amerika, dan Australia cenderung mencari konsep quality tourism.

Menurut dia, kelompok wisatawan tersebut lebih menyukai destinasi yang menawarkan suasana tenang, dekat dengan alam, dan tidak terlalu ramai pengunjung.

"Di Bantul trennya mereka lebih memilih destinasi alam yang tidak ramai sehingga bisa menikmati kenyamanan dengan tenang," katanya.

Ia menambahkan sejumlah kawasan yang banyak diminati wisatawan mancanegara antara lain wilayah Mangunan dan Imogiri serta sejumlah desa wisata di kawasan Pajangan dan Kebon Agung.

"Mereka menikmati keseharian dengan hidup bersama masyarakat di situ," katanya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026