Logo Header Antaranews Jogja

Dokter spesialis penyakit dalam imbau pantau detak jantung saat lari maraton

Senin, 15 Juni 2026 20:38 WIB
Image Print
Arsip foto - Sejumlah peserta berlari saat Kediri Half Marathon 2026 di Bandara Internasional Dhoho, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (17/5/2026). Kediri Half Marathon 2026 tersebut diikuti lima ribu peserta yang terbagai dalam lima kategori sebagai upaya meningkatkan wisata olahraga (sport tourism) sekaligus mempromosikan Bandara Internasional Dhoho sebagai infrastruktur ikonik baru Jawa Timur bagian selatan. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/nym)

Depok (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, mengingatkan para pelari untuk memantau detak jantung mereka selama mengikuti lari maraton untuk menghindari risiko kesehatan.

Anindia saat wawancara bersama ANTARA di Depok, Jawa Barat, Senin, mengatakan sebelum lari maraton, seseorang harus memastikan kondisi tubuh berada dalam keadaan prima atau sehat dan heart rate atau detak jantung yang normal.

Selama berlari, pelari juga perlu memantau peningkatan denyut jantung. Jika denyut jantung dirasa meningkat terlalu tinggi, pelari disarankan menghentikan lari sementara.

“Lebih baik kita hentikan dulu larinya, dengan berjalan menurunkan detak jantung kemudian dilanjutkan dengan berlari," kata Anindia.

Dia juga menegaskan bahwa seseorang harus berhenti berlari jika mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada atau kram otot.

Sebelum mengikuti lari maraton, para pelari wajib melakukan latihan, yang disesuaikan dengan jarak tempuh dan tingkat kebugaran tubuh. Menurut dia, persiapan untuk lari maraton bisa dimulai 12 hingga 16 minggu sebelum hari H.

Persiapan para pelari untuk mengikuti maraton tidak hanya sebatas menjalani latihan fisik, namun, dia juga perlu memahami kondisi kesehatan tubuh, termasuk memastikan apakah memiliki penyakit komorbid atau penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung yang telah terkontrol dengan baik.

Anindia menjelaskan obat-obatan untuk penderita penyakit tersebut bisa berdampak pada detak jantung selama aktivitas lari maraton.

“Bagaimana kondisi penyakit tersebut, apakah terkontrol atau tidak. Karena mungkin bila kita ada diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, ada obat-obat yang perlu disesuaikan dosisnya karena mungkin obat tersebut mengganggu kerja gula darah dan detak jantung selama pasien itu mungkin melakukan maraton,” tutur dia.

Selain itu, selama lari maraton, sang dokter juga mengingatkan pentingnya hidrasi tubuh. Pelari disarankan untuk mengonsumsi cairan secara teratur setiap menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer.

Setelah lari maraton selesai, Anindia juga mengingatkan untuk melakukan peregangan otot untuk menghindari kram.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pelari disarankan memantau detak jantung selama lari maraton



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026