
Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dinpar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai komoditas fesyen di Yogyakarta merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif (ekraf) yang sangat potensial untuk dikembangkan pada masa depan, khususnya sebagai penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinpar DIY Iwan Pramana mengatakan pandangan tersebut diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang menunjukkan sektor ekonomi kreatif menyumbang 11,8 persen terhadap PDRB DIY.
"Pemda DIY melihat fesyen sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif yang bukan sekadar tren, melainkan industri kreatif masa depan, data BPS tahun 2024 menunjukkan sektor ekonomi kreatif menyumbang 11,8 persen terhadap PDRB DIY," kata Iwan, di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, dari capaian tersebut subsektor fesyen dan kriya menjadi penyumbang terbesar kedua setelah kuliner.
Selain itu, DIY memiliki sekitar 15 ribu pelaku usaha fesyen dengan 97 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Fesyen dan kriya menjadi penyumbang terbesar kedua setelah kuliner, dengan total 15 ribu pelaku usaha fesyen dan 97 persennya merupakan UMKM," ujarnya.
Ia menyebut tantangan utama industri tersebut bukan terletak pada kurangnya ide kreatif, melainkan pada akses menuju pasar dan permodalan.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, kami menjalankan pendekatan penguatan ekosistem secara menyeluruh," kata Iwan.
Ia menjelaskan sejumlah upaya yang dilakukan, antara lain memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui berbagai program pendampingan, seperti Rupacipta Creative Bootcamp, coaching clinic yang bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, mentoring bisnis, serta pendampingan pengembangan produk.
Melalui program tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki diferensiasi, dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
"Kami juga aktif membuka akses pasar melalui fasilitasi partisipasi dalam berbagai pameran dan expo, business matching, promosi digital, serta kolaborasi dengan berbagai marketplace dan retailer," jelasnya.
Menurut Iwan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan produk fesyen DIY tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional.
Selain itu, Dinpar DIY juga melakukan penguatan branding dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP). Pasalnya, daya saing saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kekuatan merek, cerita produk, serta perlindungan kekayaan intelektual yang dimiliki pelaku usaha.
"Kolaborasi telah dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas, asosiasi industri, dan pemerintah pusat, untuk memperluas akses pembiayaan serta memperkuat rantai nilai industri fesyen di DIY," katanya.
Transformasi digital juga dinilai penting agar pelaku usaha fesyen dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemasaran, pengembangan pasar, hingga pengelolaan usaha yang lebih efektif dan efisien.
"Ke depan, fokus kami bukan hanya meningkatkan jumlah pelaku usaha, tetapi juga mendorong pelaku fesyen DIY agar naik kelas," ujar Iwan.
Ia berharap pelaku usaha di DIY mampu membangun usaha yang berkelanjutan, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif dan fesyen berbasis budaya di Indonesia.
"Peran pemerintah adalah membangun jembatan yang menghubungkan kreativitas para pelaku usaha dengan peluang pasar, sumber pembiayaan, teknologi, dan jejaring bisnis," katanya.
Menurut dia, jembatan tersebut berpotensi mendorong perkembangan subsektor fesyen DIY menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan apabila dikelola secara optimal.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
