Logo Header Antaranews Jogja

Wagub DIY Paku Alam X: Penting edukasi pola asuh anak untuk penurunan stunting

Senin, 22 Juni 2026 17:48 WIB
Image Print
Ilustrasi - Kader posyandu melakukan pengukuran lingkar kepala balita saat kegiatan intervensi serentak pencegahan stunting di Posyandu Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/6/2024). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Yogyakarta (ANTARA) - Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KGPAA Paku Alam X menyatakan pentingnya edukasi kepada keluarga atau orang tua tentang pola asuh anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan dalam upaya penurunan angka stunting.

"Menurunkan angka stunting tidak bisa hanya berhenti pada pemberian makanan bergizi. Di balik persoalan tumbuh kembang anak, terdapat tantangan lebih besar, yakni pemahaman keluarga tentang pola asuh, kesehatan, dan pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan," kata Wagub di Yogyakarta, Senin.

Saat menerima silaturahim Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY, Wagub mengatakan edukasi yang lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat menjadi kunci dalam percepatan penanganan stunting.

Wagub mengatakan, Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 yang akan digelar di DIY akhir Juni menjadi sarana memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga yang berkualitas, termasuk dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.

"Penanganan stunting ternyata tidak cukup hanya pada ibu dan anak. Harus ada pendekatan yang lebih menyeluruh. Ke depan mungkin bisa disampaikan kepada Bapak Menteri agar pemahaman mengenai stunting lebih membumi di masyarakat," katanya.

Wagub mengatakan, selama ini penanganan stunting sering kali dipersepsikan sebatas pemberian makanan tambahan. Padahal, yang tidak kalah penting adalah membangun pemahaman keluarga bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas yang tidak bisa ditawar.

"Pada fase itulah fondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas sumber daya manusia masa depan dibentuk," katanya.

Oleh karena itu, kata Wagub, bantuan pangan yang didapat anak tetap harus diimbangi edukasi yang membuat keluarga mampu memahami kebutuhan gizi, pola pengasuhan, hingga kesehatan anak secara mandiri.

Dia mengatakan DIY memiliki potensi untuk mengembangkan model edukasi keluarga yang lebih adaptif, melalui pendekatan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan masyarakat yang beragam. Calon ibu dapat dibekali pengetahuan sejak masa persiapan kehamilan hingga setelah melahirkan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN DIY Rohina mengatakan Harganas tingkat nasional akan berlangsung di DIY, yang puncak peringatannya digelar di kawasan Benteng Vredeburg pada 29 Juni, dengan rangkaian kegiatan berlangsung pada 25–29 Juni 2026.

Menurut dia, penunjukan DIY sebagai tuan rumah merupakan kepercayaan pemerintah pusat atas komitmen daerah dalam mendukung program pembangunan keluarga, keluarga berencana, dan percepatan penurunan stunting.

"Memang saat ini persoalannya bukan semata karena makanan bergizi tidak tersedia. Sering kali yang menjadi tantangan adalah pemahaman orang tua mengenai pola asuh dan pola makan anak. Karena itu, pendekatan edukasi kepada keluarga menjadi sangat penting," katanya.

Meski demikian, kata dia, penanganan stunting juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, seperti ketika anak sudah mendapat gizi, namun pertumbuhan belum optimal, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui faktor lain yang memengaruhi kondisi anak maupun psikologis keluarga.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026