Logo Header Antaranews Jogja

Kemenkes: Yoga opsi jaga kesehatan jiwa raga yang didukung sains

Selasa, 23 Juni 2026 19:47 WIB
Image Print
Ribuan pelajar melakukan gerakan yoga asana saat Rekor MURI Gebyar Yoga Asana di Taman Kota Lumintang, Denpasar, Bali, Rabu (6/5/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/bar

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan yoga dapat menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga secara menyeluruh di tengah gaya hidup modern yang penuh tekanan dan peningkatan beban penyakit kronis dan sudah didukung secara saintifik.

Pada Hari Yoga internasional Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan yoga menawarkan solusi praktis dan berbasis bukti. Kombinasi postur, pernapasan, dan meditasi, membantu menurunkan respons stres dan kortisol sehingga meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan kontrol metabolik.

"Di balik gerakan yang tampak sederhana, yoga mempengaruhi tubuh lewat perubahan fisiologis dan neurobiologis yang terukur, menurunkan respons stres, meningkatkan tonus vagus dan variabilitas denyut jantung, mengubah neurotransmiter seperti serotonin, menurunkan peradangan, serta memperbaiki kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan," katanya.

Ketika melakukan serangkaian asana, pranayama, dan latihan perhatian, katanya, terjadi serangkaian reaksi yang saling berkaitan, dimana pernapasan teratur menenangkan sistem saraf otonom, denyut jantung dan tekanan darah cenderung turun, dan pelepasan hormon stres seperti kortisol berkurang.

"Pada tingkat otak, praktik perhatian dan meditasi memperkuat area-area yang mengatur emosi dan kontrol impuls, sementara respons limbik yang memicu kecemasan menjadi lebih terkendali," katanya.

Dari sudut ilmiah, lanjutnya, manfaat yoga untuk kesehatan jiwa dapat dijelaskan lewat beberapa jalur yang saling melengkapi. Pertama, regulasi sistem saraf otonom dan penurunan aktivitas sumbu HPA mengurangi reaktivitas terhadap stres sehingga gejala kecemasan dan ketegangan menurun.

Kedua, perubahan neurokimia mendukung stabilitas mood dan tidur yang lebih baik.

"Ketiga, latihan perhatian meningkatkan kapasitas regulasi emosi, korteks prefrontal menjadi lebih efektif menahan reaksi berlebihan dari sistem limbik, sehingga seseorang lebih mampu mengelola pikiran dan perasaan yang mengganggu," katanya.

Secara klinis, intervensi yoga menunjukkan efek positif pada depresi ringan hingga sedang, kecemasan, dan perasaan kesejahteraan umum ketika dilakukan secara teratur.

Untuk kesehatan fisik, katanya, yoga bekerja melalui mekanisme mekanik dan metabolik. Postur-postur (asana) meningkatkan fleksibilitas, kekuatan inti, dan keseimbangan sehingga mengurangi nyeri muskuloskeletal dan memperbaiki postur.

Latihan pernapasan dan relaksasi menurunkan tekanan darah dan memperbaiki profil stres fisiologis, yang berkontribusi pada pengendalian risiko kardiometabolik.

Pada pasien dengan diabetes tipe 2, kata dia, praktik rutin dapat membantu kontrol glukosa melalui kombinasi aktivitas fisik ringan, pengurangan stres, dan perbaikan komposisi tubuh.

Selain itu intervensi yoga sering dikaitkan dengan penurunan biomarker inflamasi, yang menjelaskan sebagian manfaat jangka panjang terhadap kesehatan kardiovaskular.

"Oleh karena itu memasukkan yoga secara teratur ke rutinitas harian bukan sekadar tren kebugaran, melainkan langkah pencegahan kesehatan menyeluruh yang relevan untuk menjaga daya tahan fisik dan ketenangan jiwa di era serba cepat ini," katanya.

Dia mengingatkan meski manfaatnya nyata, yoga bukan tanpa batasan. Risiko cedera muskuloskeletal dapat muncul bila postur dilakukan tanpa pengajaran yang tepat. Kondisi medis tertentu seperti hipertensi tak terkontrol, penyakit jantung, glaukoma, atau kehamilan dengan komplikasi, memerlukan modifikasi dan konsultasi medis.

"Yoga juga bukan pengganti pengobatan untuk gangguan psikiatri berat; perannya paling efektif sebagai terapi komplementer yang melengkapi perawatan medis dan psikoterapi bila diperlukan," ujarnya.

Bagi yang ingin memulai, pendekatan bertahap adalah kunci. Dia menyarankan untuk memilih kelas pemula yang dipandu instruktur bersertifikat, fokus pada teknik pernapasan dan postur dasar, dan beri tubuh waktu untuk beradaptasi.

"Evaluasi perubahan pada mood, tidur, nyeri, dan energi setelah enam hingga delapan minggu. Dengan pengawasan yang tepat, yoga menawarkan jalan yang aman dan berkelanjutan untuk memperkuat tubuh sekaligus menenangkan pikiran," ujarnya.

Efek terbaik biasanya muncul ketika praktik dilakukan secara konsisten, misalnya dua hingga tiga kali seminggu ditambah latihan pernapasan atau meditasi harian selama beberapa minggu.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenkes: Yoga opsi jaga kesehatan jiwa raga di tengah hidup modern



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026