Logo Header Antaranews Jogja

RI upaya kuatkan ekosistem vaksin nasional-ASEAN untuk hadapi pandemi

Rabu, 24 Juni 2026 12:49 WIB
Image Print
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) di Jakarta, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Mecca Yumna

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah mengadakan forum tingkat tinggi sebagai upaya menguatkan ketahanan dan kemandirian ekosistem obat-obatan, vaksin, dan diagnostik di tingkat nasional serta Asia Tenggara sebagai kesiapsiagaan menghadapi pandemi apabila terjadi lagi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sebagai negara dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, perlu ada ekosistem kesehatan yang kuat agar Indonesia bisa tetap bertahan di saat lockdown kala pandemi. Selain itu, ketahanan kesehatan yang sama perlu dibagikan ke negara-negara tetangga berpenduduk besar, seperti Malaysia dan Thailand agar mereka dapat menyelamatkan warganya di saat seperti itu.

"Jadi teknologi ini nggak harus dimonopoli, terutama di bidang kesehatan, justru harus dibagi. Karena mereka berhak untuk hidup dan kalau pandemi terjadi, pasti masing-masing negara ingin menyelamatkan orang-orangnya dulu dibandingkan dengan yang lain," kata Budi setelah Forum Tingkat Tinggi Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Kemenkes integrasikan CKG dan imunisasi anak sekolah perluas cakupan

Nantinya, kata dia, negara-negara besar ini bisa membantu negara kecil lainnya melalui sistem ketahanan kesehatan yang mandiri.

Untuk membangun kemandirian tersebut, dia meminta kepada Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk membantu mendorong hilirisasi agar seluruh produk yang dibeli dalam belanja kesehatan bisa dibuat di Indonesia, sehingga belanja kesehatan bisa menjadi Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor kesehatan.

"Nah, saya tadi membujuk DEN, ini dari sisi belanja kesehatan, historically kita tuh udah di atas 10 persen biasanya setiap tahun. Malah tahun lalu tuh 16 persen. Memang semua belanja ini belum tertranslasikan jadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor," katanya.

Karena impor tersebut, katanya, yang menikmati PDB justru negara lain. Budi mencontohkan parasetamol yang dibuat dari bensin. Bensin sudah diproduksi Indonesia, akan tetapi belum ada hilirisasi yang memungkinkan bensin menjadi cumene, kemudian cumene menjadi phenol, hingga akhirnya menjadi parasetamol.

Contoh lainnya, darah yang dijadikan sejumlah produk, seperti plasma, albumin, immunoglobulin, Factor VIII, dan Factor IX. Meski Indonesia memiliki potensi stok darah yang besar karena banyaknya penduduk, Budi menyebut bahwa Indonesia masih mengimpor itu semua.

Baca juga: Kemenkes akan koordinasi perkuat vaksinasi rabies hewan penular

"Nah itu Pak Luhut juga yang bantu dibikin pabrik plasma pertama kali itu dan sudah jadi. Tinggal nunggu izinnya, mudah-mudahan 2027 bisa produksi 600 ribu liter per hari, kita nggak usah impor lagi," katanya.

Apabila hilirisasi ini tercapai, katanya, maka bisa membantu progres untuk meraih pertumbuhan ekonomi 8 persen seperti yang dicita-citakan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa dengan memperkuat sektor kesehatan akan ada dampak berupa pertumbuhan ekonomi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh publik.

Baca juga: Kemenkes: Perlu pendekatan menyeluruh hadapi beban Alzheimer RI









Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: RI upaya kuatkan ekosistem vaksin nasional-ASEAN untuk hadapi pandemi



Pewarta :
Editor: Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026