Logo Header Antaranews Jogja

Pemkab Kulon Progo upayakan panen maksimal padi di tengah ancaman El Nino

Jumat, 26 Juni 2026 16:33 WIB
Image Print
Lahan sawah di Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. (ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus melakukan berbagai langkah mitigasi dan adaptasi guna memastikan target panen padi seluas 7.291 hektare dapat tercapai secara maksimal di tengah ancaman fenomena iklim El Nino pada musim kemarau 2026.

Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Wazan Mudzakir di Kulon Progo, Jumat, mengatakan bahwa pihaknya telah memetakan wilayah rawan kekeringan sejak awal untuk menjaga stabilitas produksi pangan.

"Kami sudah melakukan pemetaan potensi kekeringan di masing-masing wilayah sejak April. Alhamdulillah, sebagian besar lahan terpantau aman hingga masa panen, meski ada beberapa titik yang menjadi catatan khusus," kata Wazan.

Wazan menjelaskan, luas lahan padi yang menjadi fokus pengawalan berada di wilayah Kapanewon Temon, Wates, Pengasih, Sentolo, dan Nanggulan, dengan tambahan cakupan di sebagian wilayah Samigaluh dan Kalibawang. Sementara untuk lahan palawija, pihaknya mengonsentrasikan pemantauan pada lahan seluas 3.218 hektare di Kapanewon Galur dan Lendah.

Terkait adanya petani yang tetap menanam padi di wilayah dengan risiko kekeringan, Wazan menegaskan bahwa dinas tetap memberikan dukungan penuh melalui pendampingan intensif.

"Petani memiliki semangat yang kuat untuk menanam. Meskipun sudah kami berikan imbauan terkait pemetaan risiko, mereka tetap bertekad untuk berproduksi. Kami pun mendukung dengan tetap melakukan pengawasan ketat," tambahnya.

Sebagai langkah adaptasi, Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menerapkan sejumlah strategi, di antaranya pemilihan varietas tahan kekeringan seperti Situbagendit dan Inpari 38, serta penggunaan varietas genjah atau berumur pendek guna memperpendek masa tanam.

Mitigasi juga dilakukan melalui optimalisasi sumber irigasi kecil, seperti penggunaan pompanisasi, pembuatan sumur pantek, serta pemanfaatan embung. Selain itu, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Regu Perlindungan Tanaman (RPT) dikerahkan untuk melakukan pengamatan intensif bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak serta pengelola Waduk Sermo.

Penerapan teknologi pengairan berselang (intermittent) dan penggunaan pupuk organik yang mampu menyimpan cadangan air lebih lama juga menjadi instruksi teknis kepada kelompok tani guna memperkuat ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan.

"Kami juga memperkuat koordinasi lintas sektor dan sistem peringatan dini berbasis informasi cuaca dari BMKG. Semua ini dilakukan agar petani tetap dapat berproduksi meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim," pungkas Wazan.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026