Logo Header Antaranews Jogja

Kulon Progo meningkatkan kewaspadaan hadapi kemarau dan serangan wereng

Minggu, 28 Juni 2026 18:45 WIB
Image Print
Petugas Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo melakukan pemantuan kondisi tanaman padi untuk memastikan bebas dari serangan hama wereng. ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluarkan instruksi khusus kepada seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian untuk mengantisipasi dampak musim kemarau 2026 dan mewaspadai peningkatan serangan hama Wereng Batang Coklat (WBC).

Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Wazan Mudzakir di Kulon Progo, Minggu, menyatakan bahwa langkah antisipatif perlu dilakukan secara terpadu demi menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan daerah.

"Berdasarkan informasi prakiraan musim kemarau dari BMKG yang menunjukkan potensi kemarau lebih panjang dari biasanya, serta hasil pemantauan lapangan terhadap perkembangan populasi WBC yang cenderung meningkat, kami perlu melakukan langkah-langkah mitigasi segera," kata Wazan.

Terkait antisipasi kekeringan, pihaknya menekankan optimalisasi pengelolaan sumber daya air. Petani diimbau untuk memaksimalkan fungsi embung, dam parit, hingga sumur pantek. Selain itu, penggunaan teknologi irigasi hemat air seperti irigasi berselang (intermittent), irigasi sprinkler, atau irigasi tetes menjadi prioritas, di samping pengaturan distribusi air secara bergilir.

"Kami juga meminta petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air di wilayah masing-masing dan mengutamakan varietas padi yang genjah atau toleran terhadap cekaman kekeringan," katanya.

Sementara untuk pengendalian hama WBC, Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menegaskan penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Langkah tersebut meliputi pengamatan intensif, budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, aplikasi agens pengendali hayati (APH), hingga penggunaan pestisida secara bijaksana.

Wazan juga mengimbau petani untuk melakukan tanam serempak dalam satu hamparan guna memutus siklus perkembangan hama, serta menghindari pemberian pupuk nitrogen yang berlebihan karena dapat memicu kerentanan tanaman terhadap serangan wereng.

"Petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan penyuluh di lapangan harus meningkatkan sistem peringatan dini. Jika ditemukan gejala serangan yang berpotensi menyebabkan ledakan populasi, segera laporkan ke BPP atau dinas agar penanganan cepat dilakukan," kata.

Seluruh koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), petugas POPT, dan penyuluh diinstruksikan untuk melakukan pemantauan secara berkala di wilayah binaan masing-masing. Laporan dari lapangan tersebut akan menjadi basis data bagi dinas dalam mengambil kebijakan teknis dan tindak lanjut penanganan di tingkat kabupaten.

"Kami mengajak seluruh elemen petani untuk bergerak gotong royong dalam pemeliharaan jaringan irigasi tersier dan pengawasan tanaman agar target ketahanan pangan tetap terjaga di tengah tantangan cuaca dan ancaman hama," ajak Wazan.

Berdasarkan data BPS, luas baku lahan padi sawah di Kabupaten Kulon Progo tercatat 10.254 hektare. Sementara itu, total luas panen padi tahunan di wilayah ini mencapai angka 18.547 hektare hingga 18.626 hektare.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026