Logo Header Antaranews Jogja

Harganas, bantu renovasi rumah bagi keluarga risiko stunting

Senin, 29 Juni 2026 17:43 WIB
Image Print
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (depan, mengenakan beskap hitam) memberikan keterangan kepada media usai acara puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Senin (29/6/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyiapkan bantuan renovasi rumah bagi keluarga risiko stunting dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang jatuh pada hari ini.

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji mengemukakan, terdapat fakta bahwa dari 286 juta penduduk Indonesia, ada masyarakat yang belum beruntung dan ada yang sudah lebih beruntung, oleh karena itu, Kemendukbangga/BKKBN perlu memastikan generasi masa depan bebas dari stunting.

"Salah satu persoalan yang kita hadapi adalah stunting. Angkanya saat ini 19,8 persen. Tadi ada contoh satu rumah dihuni 20 orang yang terdiri dari empat keluarga. Dalam indikator yang ada, kondisi seperti itu pasti masuk kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS) karena seperti yang disampaikan tadi, hanya ada satu mandi, cuci, kakus, artinya, akses air bersih, dapur, dan berbagai faktor lain yang menjadi penyebab stunting cenderung menjadi persoalan di sana," katanya di Yogyakarta, Senin.

Dalam sesi dialog bersama keluarga risiko stunting di Palembang, Sumatra Selatan, keluarga tersebut mengaku tinggal bersama 20 orang dalam satu rumah, Wihaji menegaskan pentingnya pemerintah saling berkolaborasi agar penurunan stunting menjadi perhatian bersama melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), sebuah program yang melibatkan multipihak dan tidak melibatkan uang negara.

Baca juga: Kemendukbangga: Pentingnya peran ayah tak bisa digantikan oleh AI

Baca juga: Mendukbangga: Pernikahan tak tercatat bisa tingkatkan risiko stunting


"Ini merupakan bagian dari percepatan pelayanan pemerintah melalui para orang tua asuh yang sudah kita bentuk. Bantuan juga tidak disalurkan melalui kementerian, tetapi langsung kepada penerima manfaat agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kita ingin menghindari masalah, jangan sampai niat membantu orang justru menimbulkan persoalan," ujar dia.

Wihaji menegaskan, penerima manfaat Program Genting mesti didata dengan jelas agar bantuan yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, termasuk dengan melibatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK).

"Siapapun yang ingin memberikan bantuan, silakan, yang penting datanya sudah kita siapkan, termasuk keluarga dengan 20 orang dalam satu rumah tadi, itu menjadi bagian yang harus kita hadir untuk membantu, dan mohon maaf, mungkin bukan hanya satu orang atau satu kelompok saja, tetapi masih ada beberapa di titik lain, dan kita tidak akan lelah untuk terus memprioritaskan kelompok-kelompok yang memang menjadi super-prioritas," paparnya.

Wihaji juga menyebutkan, Program Genting pada tahun 2025 berhasil menjangkau anak asuh sekitar 1,6 juta, sedangkan tahun ini, program sekitar 330 ribu anak asuh telah dicakup. Ke depan, Kemendukbangga/BKKBN berkomitmen terus memperbanyak edukasi dan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), terutama terkait pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

"Karena salah satu penyebab stunting adalah asupan gizi. Oleh karena itu, kita bekerja sama agar kelompok 3B benar-benar diprioritaskan. Kita terus kerjakan dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan, tidak hanya kementerian kita, tetapi juga para wali kota, gubernur, serta seluruh petugas di lini lapangan," tuturnya.





Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Harganas, bantu renovasi rumah bagi keluarga risiko stunting



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026