Logo Header Antaranews Jogja

Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar pada aset EM meningkat

Selasa, 30 Juni 2026 11:25 WIB
Image Print
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS, terpengaruh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye

Jakarta (ANTARA) - Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan nilai tukar rupiah menguat seiring meningkatnya selera risiko pelaku pasar terhadap aset emerging market (EM).

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat pada kisaran di Rp17.820 - Rp17.870 dipengaruhi oleh faktor global meningkatnya selera risiko/risk on pelaku pasar pada aset emerging market setelah yen jatuh dan tren harga minyak yang turun (ke kisaran 70 dolar AS per barel), serta index dollar yang mulai menjinak,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi bergerak melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.883 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.851 per dolar AS.

Mengutip Xinhua, Yen Jepang melemah ke level terendah terhadap dolar AS dalam hampir 39 tahun terakhir karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS lebih lanjut terus menekan mata uang Jepang.

Yen sempat jatuh ke kisaran 161,90 terhadap dolar AS selama perdagangan di New York, menandai level terlemahnya sejak Desember 1986.

“Kejatuhan yen akibat pelaku pasar meninggalkan safe asset yang identik dengan yen dan mengejar asset yang yield-nya tinggi dan pasar saham dengan momentum kenaikan saham-saham perusahaan teknologi,” ungkap Rully.

Melihat sentimen domestik, minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah dan instrumen Bank Indonesia (BI) yang masih tinggi dinilai menggambarkan dari selera risiko pelaku pasar.

Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan mengindikasikan minat pelaku pasar yang meningkat, tenor 5 tahun turun 5,2 bps (basis points) jadi 7,08 persen, 16 tahun turun 4,6 bps jadi 7,3 persen, 6-8 tahun masing-masing turun 2,4 bps menjadi 7,1 persen dan 7,22 persen, dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diburu,” ujar dia.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar pada aset EM meningkat



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026