Logo Header Antaranews Jogja

Pengamat nilai panas bumi jadi opsi strategis jaga keandalan listrik

Rabu, 1 Juli 2026 17:59 WIB
Image Print
Pekerja memeriksa fasilitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk, Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026). PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat pertumbuhan produksi listrik sebesar 15,22 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1.370 gigawatt-hour (GWh) sepanjang kuartal I 2026 sehingga dapat mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menilai pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) menjadi opsi strategis untuk menjaga keandalan sistem listrik nasional, sehingga mengurangi risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout.

“Menurut saya, panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” kata Feiral dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut Feiral, kemampuan panas bumi untuk beroperasi stabil selama 24 jam menjadikannya salah satu sumber energi potensial dalam memperkuat keandalan pasokan listrik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi.

“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan potensi panas bumi Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah memberikan peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, pengembangan panas bumi perlu berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pengembangan sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, hingga diversifikasi sumber energi.

Indonesia sendiri memiliki cadangan panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW) atau sekitar 40 persen dari cadangan dunia, menjadikannya salah satu potensi energi lokal terbesar yang dimiliki Indonesia.

Dengan karakteristik yang stabil, andal, dan melimpah, panas bumi dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya mewujudkan ketahanan energi nasional.

Meski demikian, pemanfaatan potensi tersebut masih perlu ditingkatkan. Dari total cadangan sekitar 24 GW, baru sekitar 2,7 GW atau 12 persen yang telah dimanfaatkan. Artinya, masih terdapat ruang pengembangan yang besar, termasuk untuk mengejar tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam 10 tahun ke depan.

Di sisi lain, target dalam RUPTL 2025–2034 yang mencapai 5,2 GW dinilai cukup ambisius, namun tetap sejalan dengan arah transisi energi nasional.

Pengembangan kapasitas panas bumi secara bertahap diperlukan untuk memperkuat bauran energi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Meski memiliki prospek yang besar, Feiral mengakui pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi awal yang besar, persoalan tarif keekonomian, proses perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan.

Karena itu, ia menilai diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, hingga sinkronisasi antara pengembangan pembangkit dan perencanaan jaringan kelistrikan nasional.

“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” ucapnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat nilai panas bumi jadi opsi strategis jaga keandalan listrik



Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026