
Perpusnas tegaskan peran pustakawan klarifikasi fakta di era AI

Jakarta (ANTARA) - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menegaskan peran pustakawan sebagai pihak yang harus terus melakukan klarifikasi fakta terhadap sebuah informasi di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Di era AI, kita perlu memahami pentingnya fact-finding (pencarian fakta), integritas, dan peran pustakawan. Fungsi utama perpustakaan dalam era AI adalah melakukan fact-finding atau pencarian fakta yang benar. AI masih dapat menghasilkan halusinasi, termasuk referensi atau artikel ilmiah yang sebenarnya tidak pernah ada," kata Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso dalam konferensi pers tentang penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan pustakawan harus terus mengurasi sumber terpercaya, memastikan kredibilitas dan validitas ilmiah, dan menjaga kebenaran akademik karena integritas menjadi prinsip utama dalam penggunaan AI. Keahlian pustakawan mencakup verifikasi otoritas penulis dan lembaga, memastikan aktualitas informasi, mengecek kebenaran metode ilmiah, serta menyajikan informasi yang telah melalui proses kurasi secara menyeluruh.
"Layanan perpustakaan harus tetap berlandaskan sumber yang memiliki kredibilitas tinggi. Relevansi pustakawan di era AI sangat ditentukan oleh peningkatan kompetensi mereka. Oleh karena itu, Perpusnas bekerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Mercu Buana, untuk menyelenggarakan pelatihan AI bagi pustakawan," ujar dia.
Sebagai peningkatan kompetensi pustakawan, Perpusnas juga mengadakan webinar bersama pakar AI dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan digital. Selain itu, pustakawan juga dituntut mampu berkolaborasi dengan peneliti yang telah memanfaatkan berbagai tools AI, misalnya perangkat analisis penelitian, aplikasi sitasi, penerjemahan berbasis AI, serta penyusunan artikel ilmiah.
"Peningkatan kemampuan ini memungkinkan pustakawan berperan lebih strategis dalam mendukung peneliti, akademisi, guru, dan ilmuwan dalam rangka peningkatan literasi digital masyarakat," tuturnya.
Joko menegaskan kehadiran AI dapat semakin memperkuat layanan perpustakaan, dan bukan menggantikan perannya sebagai tolak ukur peningkatan literasi bangsa. Perpusnas juga memandang AI tidak mengurangi relevansi perpustakaan, tetapi justru memperkuat layanan.
"Sebelumnya, pencarian koleksi menggunakan Online Public Access Catalog (OPAC) yang mengandalkan metadata, seperti nama pengarang, kata kunci, subjek, dan penerbit. Dengan AI, pencarian menjadi lebih komprehensif, seluruh aspek dalam koleksi dapat ditelusuri lebih mudah, serta akses terhadap sumber pengetahuan menjadi lebih luas," paparnya.
Joko mengemukakan AI juga berpotensi mendukung pembangunan repositori pengetahuan nasional. Namun, tanggung jawab pemakaiannya tetap berada pada manusia sebagai pengguna AI, bukan pada teknologinya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Perpusnas tegaskan peran pustakawan klarifikasi fakta di era AI
Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
