Logo Header Antaranews Jogja

Ekonom UMY: Fundamental ekonomi Indonesia kokoh meskipun rupiah tertekan

Kamis, 2 Juli 2026 23:00 WIB
Image Print
Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Titis Kusuma Wardani. ANTARA/HO-Humas UMY

Yogyakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Titis Kusuma Wardani menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak melihat pelemahan mata uang sebagai indikator tunggal dalam mengukur kesehatan fundamental ekonomi nasional di tengah dinamika pasar keuangan global yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dyah di Yogyakarta, Kamis, mengatakan terdapat miskonsepsi jika menilai kekuatan ekonomi hanya dari satu sisi pergerakan nilai tukar.

"Pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh kombinasi rumit antara faktor domestik dan guncangan eksternal yang sulit dihindari. Rupiah bisa melemah meskipun sebagian indikator fundamental masih terlihat kuat. Hal ini terjadi karena nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kondisi dalam negeri, tetapi juga sangat bergantung pada faktor eksternal dan persepsi investor terhadap prospek ekonomi suatu negara," kata Dyah.

Menurut dia, aktor pemicu tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dominan dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang cenderung bullish, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral global, serta fenomena capital outflow atau arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Selain itu, meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas kebijakan domestik turut memberikan efek sensitif. Dinamika tersebut membuat nilai tukar menjadi sangat rentan terhadap sentimen pasar, bahkan ketika kondisi ekonomi makro domestik relatif stabil.

"Tekanan terhadap rupiah dapat berasal dari penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, capital outflow" hingga pelemahan pasar keuangan. Jadi, fundamental yang relatif kuat tidak serta-merta membuat rupiah kebal terhadap gejolak global maupun perubahan persepsi investor," kata Dyah.

Dalam pemaparannya, Dyah menggarisbawahi bahwa pemerintah maupun otoritas moneter menilai kondisi fundamental ekonomi berdasarkan berbagai indikator komprehensif, bukan hanya fluktuasi nilai tukar.


Ia menyebutkan bahwa indikator-indikator utama seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi yang terjaga, defisit fiskal yang berada dalam batas aman, serta rasio utang pemerintah yang masih dalam koridor wajar, merupakan penopang utama fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

"Dalam ekonomi makro, fundamental biasanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, rasio utang, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, stabilitas sistem keuangan, tingkat investasi, serta kondisi pasar tenaga kerja. Data-data ini menunjukkan bahwa ekonomi kita memiliki daya tahan yang baik," katanya.

Selain data statistik, Dyah juga menekankan pentingnya melihat dampak ekonomi terhadap sektor riil. Menurutnya, stabilitas ekonomi yang ideal adalah ketika data makro yang kuat mampu ditransmisikan ke dalam iklim usaha yang kondusif bagi masyarakat dan pelaku bisnis.

Untuk itu, kata Dyah, strategi penguatan ketahanan nasional untuk menghadapi tantangan ekonomi global ke depan, yakni memberikan beberapa rekomendasi strategis bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.

Prioritas utama, menurut Dyah, adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi tanpa harus menghambat pertumbuhan di sektor riil. Kebijakan fiskal harus dikelola dengan penuh kredibilitas dan efisiensi, memastikan belanja negara disalurkan ke sektor-sektor yang produktif.

"Pemerintah perlu menjaga kepastian regulasi agar investor tetap percaya dan tidak ragu menanamkan modalnya. Kepastian hukum dan kebijakan yang konsisten menjadi faktor krusial di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini," kata Dyah.

Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat, ia optimis stabilitas makroekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga mampu memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal di masa depan.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026