Logo Header Antaranews Jogja

Kemenpora: 72 tenaga baru klasifier jadi modal pengembangan olahraga disabilitas

Jumat, 3 Juli 2026 19:40 WIB
Image Print
Atlet dan ofisial kontingen Indonesia mengikuti defile saat upacara penutupan ASEAN Para Games 2025 Thailand di 80th Birthday Stadium, Nakhon Ratchasima, Thailand, Senin (26/1/2026). Tim Indonesia berada di peringkat kedua dengan mengumpulkan 135 medali emas, 144 medali perak, dan 114 medali perunggu dalam pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara untuk atlet disabilitas tersebut. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/fzn/foc.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyatakan 72 tenaga klasifier olahraga disabilitas fisik yang dinyatakan lulus dalam pelatihan menjadi modal pengembangan olahraga disabilitas nasional.

"Tenaga klasifier berperan penting dalam melakukan klasifikasi dalam olahraga disabilitas menjadi pondasi untuk pertandingan yang setara di mana tidak ada pertandingan tanpa proses klasifikasi," kata Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora Leny Kurnia dalam keterangan National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) di Jakarta, Jumat.

Ke-72 tenaga klasifier itu telah mendapatkan sertifikasi tenaga klasifikasi olahraga disabilitas di Indonesia setelah mengikuti pelatihan yang diadakan Kemenpora dan NPC Indonesia.

Mereka dinyatakan lulus menjadi klasifier disabilitas fisik setelah dua pelatihan di Karanganyar dan Makassar yang diikuti 77 peserta dari 28 provinsi.

Leny menjelaskan bahwa Kemenpora menginginkan ada tenaga klasifier baru yang kompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi, sehingga ada pemerataan di setiap provinsi.

Oleh sebab itu, hadirnya 72 tenaga klasifier itu membawa harapan baru dalam pemerataan pengembangan olahraga disabilitas di Indonesia.

Chief Classifier NPC Indonesia Retno Setianing menjelaskan bahwa tenaga klasifikasi olahraga disabilitas, termasuk kategori disabilitas fisik, sangat penting dalam mengejar prestasi level internasional karena para atlet wajib lolos proses klasifikasi untuk bisa mengikuti pertandingan.

Menurutnya, pemerataan tenaga klasifikasi memberikan peluang bagi setiap penyandang disabilitas di daerah untuk menjadi seorang atlet. Mereka bisa diarahkan sesuai potensi cabang olahraga serta nomor pertandingan yang bisa diikuti.

Ia berharap para tenaga klasifier baru yang bisa membantu untuk memberikan klasifikasi di daerahnya masing masing, sehingga calon atlet yang direkrut sudah memiliki, atau paling tidak penempatan yang mendekati dalam perkiraan kelas-kelas olahraga.

"Dengan begitu, ketika akan dibina olah daerahnya, sport class dari calon atlet tersebut tidak meleset terlalu jauh. Ini hal yang baik dalam mencari bibit-bibit atlet baru karena kita harus mempersiapkan Paralympic 2028," katanya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: 72 tenaga baru klasifier jadi modal pengembangan olahraga disabilitas



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026