Logo Header Antaranews Jogja

Pakar FKIK UMY ingatkan masyarakat waspadai gejala awal Ebola

Sabtu, 4 Juli 2026 20:36 WIB
Image Print
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Farindira Vesti Rahmasari . ANTARA/HO-Humas UMY

Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Farindira Vesti Rahmasari mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman virus Ebola yang kembali merebak di beberapa negara Afrika dan berstatus darurat kesehatan global oleh WHO.

Farindira di Yogyakarta, Sabtu, menekankan tantangan utama dalam deteksi dini Ebola adalah gejalanya yang pada fase awal menyerupai penyakit influenza atau flu biasa, seperti demam, kelelahan, nyeri otot, hingga sakit tenggorokan.

"Karena gejala awalnya mirip flu, masyarakat sering kali menganggapnya sebagai penyakit biasa. Padahal, jika tidak segera tertangani, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat seperti gangguan fungsi organ hingga perdarahan," kata Farindira.

Menurut catatan WHO hingga 2 Juli 2026, wabah Ebola varian Bundibugyo telah melampaui 1.460 kasus terkonfirmasi dengan tingkat kematian rata-rata mencapai 50 persen, dimana penyakit yang disebabkan oleh genus Orthoebolavirus ini memiliki masa inkubasi dua hingga 21 hari.

Ia menjelaskan risiko penularan meningkat ketika gejala mulai muncul. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, keluarga yang merawat pasien, serta pelaku perjalanan dari wilayah terdampak menjadi kelompok yang paling berisiko.

"Riwayat perjalanan adalah informasi krusial bagi tenaga kesehatan untuk menentukan diagnosis. Masyarakat yang baru pulang dari wilayah transmisi aktif harus terbuka menyampaikan riwayat tersebut jika mengalami gejala kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat," katanya.

Menurut dia, upaya pencegahan dapat dilakukan melalui langkah sederhana, yakni menghindari kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta tidak menyentuh benda yang terkontaminasi atau jenazah pasien tanpa prosedur keamanan yang ketat.

Di fasilitas kesehatan, penerapan protokol pengendalian infeksi yang ketat, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) dan penyediaan ruang isolas menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan.

Farindira menegaskan kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan wilayah endemis atau satwa liar berisiko seperti kelelawar buah dan primata.

"Deteksi dini dan keterbukaan informasi menjadi kunci agar penyebaran penyakit ini dapat dikendalikan. Masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala kesehatan apa pun setelah melakukan perjalanan dari daerah terdampak," katanya.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026