
Bakom RI ungkap empat risiko tekanan perekonomian RI

Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan empat risiko tekanan ekonomi atau quadruple whammy yang berdampak pada perkembangan jalannya bisnis di Indonesia.
Fithra dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Jakarta, Rabu memaparkan empat indikator utama yang menjadi tantangan berat saat ini adalah defisit neraca perdagangan sebesar 1,6 miliar dolar AS serta kontraksi indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index, PMI) manufaktur ke level 46,9.
Selain itu, lonjakan inflasi dari 3,08 persen menjadi 3,34 persen dan anjloknya indeks keyakinan konsumen atau Consumer Confidence Index (CCI) ke angka 117,8 dari sebelumnya 120,9 turut memperberat kondisi fundamental ekonomi nasional dalam jangka pendek.
Fithra menjelaskan bahwa kontraksi pada sektor manufaktur terjadi karena pelaku usaha enggan melakukan ekspansi lebih lanjut akibat tingginya biaya produksi, terutama dari sektor energi.
"Untuk yang bekerja di industri menjadi pengusaha, menjadi produsen, pasti melihat tren ini sudah sangat khawatir, karena apa? Karena kalau ingin menaikan harga, kecenderungannya di Indonesia ini price elastic, kalau harganya naik demand-nya turun," ujarnya.
Ia menambahkan, situasi dilematis tersebut pada akhirnya memaksa para pelaku usaha melakukan strategi shrinkflation, yaitu memperkecil ukuran atau isi produk demi menyiasati lonjakan biaya produksi sementara harga jual tetap terjangkau oleh konsumen.
Meski demikian, Fithra menyebut masih ada harapan karena impor barang modal meningkat dari 5,64 persen pada April menjadi 12,7 persen pada Mei yang menunjukkan adanya aktivitas pemenuhan pasokan dari sisi produsen.
Terkait defisit neraca perdagangan yang mencapai 1,6 miliar dolar AS setelah bertahan selama 72 kali surplus, Fithra menyebutkan bahwa rem berbalik arah ini dipicu oleh tingginya defisit pada neraca minyak dan gas (migas).
Ekspor migas nasional tercatat hanya sebesar 758 juta dolar AS, sedangkan nilai impor migas melonjak hingga 4,5 miliar dolar AS yang menyebabkan defisit sektor migas membengkak menjadi 3,8 miliar dolar AS.
Kondisi tersebut tidak mampu ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang meskipun mencatatkan performa positif, namun nilainya hanya mencapai 2,2 miliar dolar AS.
Fithra menambahkan bahwa penurunan kinerja ekspor nonmigas dipengaruhi oleh anjloknya pengapalan komoditas lemak nabati atau CPO sebesar minus 14,23 persen, serta besi baja yang merosot ke angka minus 14,68 persen pada Mei.
Penurunan tajam ekspor nonmigas ke pasar global ini diduga merupakan dampak dari kebijakan perdagangan luar negeri Amerika Serikat yang menerapkan aturan tarif baru.
"Hipotesis saya ini karena front loading. Kalau kita lihat berdasarkan trade partners di bulan April ekspor kita ke Amerika Serikat naik 38,72 persen, tetapi di bulan Meinya anjlok minus 24,21 persen," ucap Fithra.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bakom ungkap empat risiko tekanan perekonomian RI
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
