Logo Header Antaranews Jogja

Pameran "Datang Gelanggang" di GIK UGM diperpanjang jam operasionalnya

Jumat, 10 Juli 2026 18:36 WIB
Image Print
Salah seorang pengunjung melihat karya Pameran seni rupa "Datang Gelanggang" dengan tema Reading the Unspoken Membaca yang Tak Terucap: Ingatan, Tubuh, dan Proses yang Tertinggal di Galeri Bulaksumur B, GIK UGM. Jumat (10/7/2026) (Foto Antara/Hery Sidik)

Yogyakarta (ANTARA) - Pameran seni rupa "Datang Gelanggang" dengan tema Reading the Unspoken Membaca yang Tak Terucap: Ingatan, Tubuh, dan Proses yang Tertinggal di Galeri Bulaksumur B, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada jam operasionalnya diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB.

Pameran seni rupa yang berlangsung hingga 17 Juli 2026 tersebut, saat ini telah memasuki minggu ketiga penyelenggaraan dengan jumlah kunjungan lebih dari 2.300 orang.

Galeri Bulaksumur bersama Sedekat Imaji Rupa memutuskan memperpanjang jam operasional pameran dari sebelumnya hanya buka hingga pukul 17.00 WIB, kini pengunjung dapat menikmati karya-karya yang dipamerkan hingga pukul 20.00 WIB seriap hari.

"Keputusan memperpanjang jam kunjung pameran ini lahir dari antusiasme pengunjung yang terus mengalir sejak hari pertama pembukaan," kata Exhibition Manager pameran "Datang Gelanggang" Salsabila Azzahra dalam keterangannya di GIK UGM Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, dengan perpanjangan jam kunjung pameran, maka pengunjung yang baru bisa datang setelah jam kerja, dan ruang perjumpaan yang ingin dibangun lewat pameran ini semestinya bisa diakses oleh siapa saja, tanpa terburu-buru oleh waktu.

"Dengan perpanjangan jam kunjung ini, Datang Gelanggang berharap dapat menjangkau lebih banyak pengunjung untuk turut menyelami jejak ingatan, tubuh, dan proses kreatif yang dihadirkan dalam pameran ini," katanya.

Seorang pelukis yang karyanya dipamerkan, Endin Rahmanisa mengatakan bahwa karya yang dilukis merekam dan mendesain memori audiensnya supaya bisa bergerak, seperti arsitek yang mendesain gerak manusia dalam bangunan.

Dosen dan Head of CESA GIK Indri Dwi Apriliyanti memberikan kesan mendalam dan terpaku pada karya Anton Afganial, yang melihat warna-warna terang yang dibiarkan menetes, seolah ada bagian yang sengaja tidak diselamatkan.

Menurut dia, justru di titik itulah, seluruh lukisan terasa utuh, sehingga dirinya mengaku berhenti cukup lama di depan karya tersebut, dan menyimpulkan bahwa tidak semua yang tidak sempurna perlu diperbaiki agar tetap layak dicintai.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026