
Dinkes Sleman dan BPJS dorong budaya sehat lewat Program Prolanis Muda

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman bersama BPJS Kesehatan memperkuat kolaborasi untuk mendorong budaya hidup sehat sekaligus mencegah risiko penyakit kronis di kalangan generasi muda melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr. Cahya Purnama, M.Kes. menyambut baik program inovatif tersebut karena penyakit tidak menular kini mulai banyak ditemukan pada usia produktif atau Generasi Z di bawah 45 tahun akibat perubahan gaya hidup.
Hal itu disampaikannya pada acara Semarak Gerak Sehat Prolanis di Lapangan Pemerintah Kabupaten Sleman, Jumat (10/7) dalam rangkaian HUT Ke-58 BPJS Kesehatan yang diisi dengan beragam kegiatan termasuk mengenalkan metode Gerak Sehat Peserta Prolanis 335 (GSP 335) yakni aktivitas jalan kaki secara interval berupa tiga menit berjalan santai, dilanjutkan tiga menit berjalan cepat yang diulang sebanyak lima set atau selama 30 menit.
Menurut dr. Cahya, jenis penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronis saat ini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di wilayah Sleman.
Pemerintah daerah berharap sinergi intervensi melalui Prolanis Muda ini dapat membangun budaya promotif dan preventif secara masif demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
Langkah pencegahan ini dinilai sangat krusial mengingat sebagian besar penyakit kronis tersebut sebenarnya dapat dikendalikan apabila masyarakat berkomitmen menerapkan pola hidup sehat serta rutin melakukan deteksi dini.
Melalui penguatan program baru yang menyasar usia produktif ini, diharapkan risiko komplikasi fatal seperti gagal ginjal yang memaksa penderita usia muda harus menjalani cuci darah dapat dihindari sejak awal.
Dalam kesempatan sama, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, R. Bowo Pramono menjelaskan salah satu penyakit kronis utama yang mengancam usia produktif adalah diabetes melitus yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah.
Penyakit diabetes dan hipertensi sejatinya memiliki akar penyebab yang sama, yaitu resistensi insulin, sehingga munculnya satu gejala penyakit kronis yang harus diwaspadai agar tidak merembet ke organ tubuh lainnya.
Dr. Bowo memaparkan beberapa faktor risiko utama yang memicu diabetes antara lain adalah kondisi hipertensi, gangguan kolesterol (dislipidemia), faktor keturunan, usia di atas 40 tahun, serta masalah obesitas.
Masyarakat juga diminta mengenali gejala klasik diabetes seperti kondisi sering makan, sering minum, sering kencing, serta penurunan berat badan secara drastis meskipun porsi makan tergolong banyak.
Jika tidak dikendalikan dengan baik, kadar gula darah yang terus tinggi berpotensi memicu komplikasi pembuluh darah serius seperti kerusakan mata, gangguan saraf, gagal ginjal, hingga serangan jantung dan amputasi kaki.
Untuk mengatasinya, dr. Bowo menekankan pentingnya lima pilar manajemen diabetes yang meliputi edukasi, olahraga 30 menit per hari, diet rendah karbohidrat, kepatuhan obat atau insulin, serta pemeriksaan gula darah mandiri secara berkala.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
