Logo Header Antaranews Jogja

Industri pertahanan RI pernah ingin dijual, Prabowo: Saya larang!

Sabtu, 11 Juli 2026 05:50 WIB
Image Print
Presiden Prabowo Subianto dari atap mobil kepresidenan Maung Garuda buatan PT Pindad menyapa masyarakat Lombok Barat saat melintas di kawasan Bendungan Meninting di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa dirinya pernah menggagalkan upaya-upaya pihak tertentu yang ingin menjual industri pertahanan dalam negeri kepada asing karena usaha-usaha milik negara itu tak dapat menghimpun keuntungan dalam jumlah besar.

"Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang seolah-olah, tadinya mau dijual ke asing, saya larang! Tadinya industri pertahanan mau dijual. PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PT DI dibunuh mau dijual. Kita bangkitkan! Sekarang, kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu," kata Presiden Prabowo saat berpidato dalam acara peresmian lima bendungan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat.

Presiden Prabowo, yang telah mengurusi pertahanan sejak menjabat sebagai menteri pertahanan pada periode kedua pemerintahan Presiden Ke-7 Joko Widodo, yaitu pada 2019-2024, kemudian mengumumkan perusahaan-perusahaan pertahanan pelat merah itu, yang semula ingin "dibunuh" dan "dijual" saat ini telah bertumbuh dan berkembang pesat.

Baca juga: Menko Yusril tegaskan Perpres 111/2025 bukan regulasi khusus LGBTQ

Baca juga: Menhan pastikan Kogabwilhan III siap jaga Indonesia bagian timur

"PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat. PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal selam. PT PAL akan bikin kapal-kapal canggih. Pindad sekarang -- baru saja saya dapat laporan -- dapat kontrak dari Arab Saudi. Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi akan dibangun oleh PT Pindad. Senjata kita teruji," kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.

Sejak 2022, sejumlah perusahaan pelat merah yang bergerak di industri pertahanan tergabung dalam holding Defend ID. Lima perusahaan yang tergabung dalam Defend ID yaitu PT Len Industri sebagai perusahaan induk, kemudian PT PAL, PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Pindad, dan PT Dahana.

PT PAL Indonesia, sebagai galangan kapal terbesar Indonesia yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, telah memproduksi berbagai jenis kapal, termasuk kapal-kapal tempur dan kapal-kapal rumah sakit untuk kebutuhan dalam negeri, dan juga ekspor ke luar negeri. Sejauh ini, PT PAL telah membangun kapal selam di galangannya di Surabaya, bekerja sama dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) asal Korea, yaitu KRI Alugoro-405.

Awal Juli 2026, PT PAL juga telah memasuki tahap pembangunan fisik 2 unit kapal selam Scorpene bekerja sama dengan Naval Group. Dua perusahaan itu telah memulai tahapan pemotongan baja pertama pada bulan ini. Scorpene merupakan kapal selam canggih milik Naval Group asal Prancis yang dipesan oleh Indonesia.

Dua unit kapal selam Scorpene pesanan Indonesia itu akan dibangun seluruhnya di galangan kapal PT PAL di Surabaya.









Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Industri pertahanan RI pernah ingin dijual, Prabowo: Saya larang!



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026