
Lingkungan sehat keluarga bantu membangun ketahanan mental anak

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Meiri Dias Tuti, M.Psi., Psikolog menyampaikan bahwa membangun ketahanan mental pada anak perlu memberikan lingkungan yang sehat dan kondusif di dalam keluarga.
Ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Rabu, psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia dalam Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan keluarga adalah pendidikan informal atau yang utama untuk anak.
“Sehingga keluarga, orang tua yang mau mendapatkan anak yang punya kesehatan mental yang baik tentu saja harus harmonis orang tuanya, harus bisa memberikan lingkungan yang aman dan nyaman di rumah,” kata Meiri.
Selain itu, memberikan makanan yang bergizi dan sehat, lanjut Meiri, juga sangat membantu kesehatan mental maupun otak untuk anak.
Menurut Meiri, pendidikan yang utama dan pertama itu tentu saja dari rumah terutama terkait kebiasaan yang perlu dibangun berkaitan dengan adab pada anak.
Dalam hal ini, orang tua menyekolahkan anak itu dinilainya sebagai mendelegasikan tugas kepada sekolah sementara waktu, namun bukan menyerahkannya begitu saja.
“Kalau mau membangun adab yang baik, ya kita pasti pilih sekolah yang bagus sistemnya, yang cocok dengan visi misi keluarga, juga menekankan penanaman karakter dan nilai moral selain akademik. Itu juga ditunjang dengan pendidikan di dalam keluarga,” imbuh dia.
Hal itu dinilainya perlu ditunjang dengan pendidikan di dalam keluarga, seperti bagaimana membangun keteraturan, komunikasi dengan orang tua, pemenuhan kebutuhan kasih sayang dan rasa aman dari keluarga, serta membuat anak sehat secara mental di rumah.
Anak dikatakan Meiri juga perlu untuk diajarkan adab yang baik berdasarkan nilai-nilai sosial, budaya, dan ajaran yang ada di agama masing-masing.
Baca juga: MPR: Dibutuhkan kolaborasi atasi darurat kesehatan mental anak
Baca juga: Dinkes DIY prioritas tangani gejala gangguan mental pada anak sekolah
Meiri juga menyampaikan berkaitan dengan membangun ketahanan mental anak juga melibatkan pihak sekolah seperti ada proses observasi dari guru. Misalnya, perilaku di sekolah, ada kendala tertentu atau tidak hingga penilaian apakah anak memerlukan bantuan profesional untuk membantu anak bisa beradaptasi.
Psikolog yang tergabung anggota Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Wilayah Jawa Timur itu mengatakan jika anak menunjukkan sudah ada perilaku mogok sekolah, ketakutan atau kecemasan yang berlebihan, tidak bisa lagi berinteraksi dengan orang lain, bahkan di lingkungan baru, orang tua sebaiknya bisa berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
“Tidak ada salahnya untuk orang tua mencari bantuan pada profesional kesehatan mental untuk bisa men-skrining apakah anak kita ada gangguan atau tidak. Dari situ biasanya dapat solusi atau saran dari profesional tentang bagaimana membangun ketahanan mental anak kita,” ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengingatkan para pendidik dan orang tua bahwa kecerdasan akademik seorang anak akan bernilai nol jika tidak diimbangi dengan kesehatan fisik serta mental yang prima.
Dalam hal ini, Pratikno menyerukan perwujudan empat "Ruang Aman dan Nyaman" bagi anak. Ruang pertama adalah keluarga sebagai pilar kasih sayang, kemudian ruang kedua yakni satuan pendidikan yang meliputi sekolah, madrasah, dan pesantren.
Untuk mewujudkan ruang aman yang ketiga, yakni ruang publik, Menko PMK secara khusus menugaskan seluruh jajaran kepala daerah untuk turut turun tangan, serta ruang keempat berupa aman dan nyaman di ruang digital.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Lingkungan sehat keluarga bantu membangun ketahanan mental anak
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
