
Pemkab Bantul perkuat budaya baca melalui pembentukan Bunda Literasi

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berupaya meningkatkan budaya membaca melalui pembentukan Bunda Literasi hingga tingkat pemerintahan paling bawah, yakni kalurahan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul Dian Mutiara Sri Rahmawati, di Bantul, Yogyakarta Selasa, mengatakan pengurus Bunda Literasi resmi dikukuhkan pada pekan lalu dengan dasar Surat Keputusan (SK) yang menetapkan penunjukan Bunda Literasi Kapanewon dan Kalurahan Masa Bakti 2026–2029 untuk mendorong budaya gemar membaca dan transformasi perpustakaan
"Peran Bunda Literasi sebagai mitra pemerintah dalam menumbuhkan budaya gemar membaca serta belajar sepanjang hayat," katanya.
Menurut dia, langkah tersebut penting untuk memperkuat komitmen pengembangan budaya literasi di tengah masyarakat.
"Harapannya warga Bantul gemar membaca, haus akan ilmu pengetahuan, dan mampu mengaplikasikan ilmu tersebut untuk kesejahteraan hidupnya," ujarnya.
Ia mengatakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga telah menyusun pedoman teknis bagi Bunda Literasi di tingkat kalurahan dan kapanewon sebagai acuan pelaksanaan program literasi dalam arti yang lebih luas guna meningkatkan minat baca masyarakat.
Baca juga: MPR: Perlu langkah strategis tingkatkan literasi nasional
Bunda Literasi, lanjutnya, akan bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, satuan pendidikan, komunitas literasi, serta berbagai organisasi yang bergerak di bidang literasi, termasuk Tim Penggerak PKK di setiap kalurahan dan kapanewon.
"Goals-nya nanti adalah mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU), kami akan meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat dan Tingkat Kegemaran Membaca," ujarnya.
Pada 2026, Pemkab Bantul menargetkan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat mencapai angka 56, meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 55,93.
"Perubahan target TKM yang direncanakan tahun 2026 sebesar 56 karena tahun 2025 capaiannya terealisasi 55,93," katanya.
Salah satu upaya untuk mencapai target tersebut dilakukan melalui pengukuhan Bunda Literasi yang mayoritas merupakan istri panewu dan lurah di wilayah masing-masing sekaligus menjadi simbol penggerak literasi.
"Kami titipkan penguatan literasi masyarakat di wilayah masing-masing ke mereka," ujarnya.
Menurut dia, Bunda Literasi juga diharapkan menyosialisasikan berbagai kegiatan literasi melalui program PKK di setiap kalurahan, seperti pembentukan pojok baca maupun perpustakaan mini di rumah.
"Sebenarnya di setiap rumah pasti ada buku, kami ingin menggerakkan agar setiap keluarga memiliki perpustakaan mini, meskipun tidak harus seperti perpustakaan yang ideal, cukup ada satu lemari buku," katanya.
Melalui gerakan tersebut, ia berharap setiap keluarga membiasakan diri membaca buku, meski hanya beberapa halaman setiap hari, sehingga budaya membaca dapat terus tumbuh.
"Sekarang kan banyak anak sering main HP, kadang-kadang budaya membacanya jadi kurang," ujarnya.
Baca juga: Duh banyak anak Indonesia tidak bisa baca jam analog
Ia menilai penguatan literasi akan berdampak positif terhadap meningkatnya daya saing masyarakat sehingga cita-cita mewujudkan Bantul yang maju dan sejahtera dapat tercapai secara bertahap.
"Mempercepat terwujudnya masyarakat Bantul yang maju, kuat, demokratis dan sejahtera," katanya.
Menurut dia, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kebiasaan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami berbagai fenomena sosial yang pembentukannya dapat dimulai dari lingkungan keluarga, terutama melalui peran seorang ibu.
"Ketika seorang ibu menyalakan cahaya itu di rumahnya, sesungguhnya ia sedang menerangi masa depan bangsanya," ujarnya.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Bantul Emi Masruroh Halim mengatakan sebanyak 93 Bunda Literasi telah dikukuhkan mulai tingkat kalurahan hingga kabupaten.
"Ini merupakan gerakan agar menginspirasi warga sekitar," ujarnya.
Ia mengajak seluruh Bunda Literasi menjalankan amanah tersebut dengan penuh keikhlasan demi mewujudkan masyarakat Bantul yang mencintai ilmu pengetahuan serta memiliki karakter yang baik.
"Ketika masyarakat mencintai ilmu, mereka akan lebih bijaksana dalam berpikir, lebih santun dalam bertutur, dan lebih kuat dalam menghadapi perubahan zaman," katanya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
