Logo Header Antaranews Jogja

Pemkab Gunungkidul cari solusi mengatasi monyet perusak lahan pertanian

Rabu, 29 Juli 2026 19:48 WIB
Image Print
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bersama tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membahas solusi penanganan monyet ekor panjang (MEP) yang merusak lahan pertanian di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Senin (27/7/2026). ANTARA/HO-Pemkab Gunungkidul

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus mencari solusi yang tepat untuk menangani permasalahan monyet ekor panjang (MEP) yang kerap merusak lahan pertanian milik warga.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, di Gunungkidul, Rabu, mengatakan luas kawasan hutan di wilayahnya mencapai sekitar 88,56 persen dari total kawasan hutan di DIY dengan mayoritas vegetasi berupa pohon jati, sehingga kurang tersedia sumber makanan bagi MEP.

"Mayoritas lahan tersebut merupakan hutan jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata," katanya.

Menurut Endah, kondisi tersebut menyebabkan populasi MEP yang menghuni kawasan hutan Gunungkidul kekurangan sumber pakan alami sehingga masuk ke lahan pertanian warga.

Selain itu, kata dia, MEP memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga tidak lagi takut terhadap suara petasan maupun senjata mainan, bahkan mampu mengenali jadwal pemberian bantuan pakan.

"Solusi yang telah dilakukan adalah dengan memberi bantuan makanan, tapi ini tidak instan dan membutuhkan perhitungan anggaran yang detail," ujarnya.

Ia mengatakan MEP merupakan satwa yang dilindungi sehingga penanganannya harus dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan berkelanjutan.

Menurutnya, strategi penanganan disusun dalam tiga tahapan, yakni jangka pendek melalui pemberian pakan di titik-titik tertentu, jangka menengah dengan membangun kawasan sumber pangan permanen melalui penanaman pohon buah hutan, serta jangka panjang berupa restorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan.

"Jangka menengah dengan pembentukan satuan pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan dan jangka panjangnya merestorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan secara menyeluruh agar mengembalikan monyet ke habitat aslinya," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan upaya pengendalian MEP melalui pemberian pakan tambahan secara manual telah dilakukan sejak tahun lalu.

Namun, berdasarkan hasil kajian, metode tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif meskipun mampu mengurangi tingkat kerusakan tanaman di sejumlah lokasi.

"Kalau menurut kajian memang kurang efektif, tapi paling tidak pada waktu itu di wilayah tersebut tingkat kerusakan lahannya agak berkurang," katanya.

Edy menjelaskan MEP paling banyak merusak tanaman jagung, kacang-kacangan, dan ketela yang umumnya berada di kawasan selatan Gunungkidul.

"Kalau di wilayah kita itu, terutama di wilayah selatan," ujarnya.

Ia memperkirakan MEP tersebar di hampir 80 kalurahan di Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah populasi sekitar 1.000 ekor.

Saat ini, Pemkab Gunungkidul juga bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyusun strategi penanganan, salah satunya melalui penanaman pohon yang menghasilkan buah sebagai sumber pakan alami MEP di sekitar habitatnya.

"Kemarin dari Kehutanan UGM juga menyampaikan penanaman pohon yang buahnya bisa dimakan oleh MEP itu, sehingga MEP tidak merusak tanaman warga," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026