Logo Header Antaranews Jogja

Menteri Nusron minta tradisi dialektika berpikir di STPN tetap dijaga

Jumat, 4 September 2026 17:16 WIB
Image Print
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid. ANTARA/HO-Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Kementerian ATR/BPN

Sleman (ANTARA) - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik, khususnya di Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nusron meminta civitas akademika tidak segan membuka ruang diskusi dengan mengundang berbagai pihak yang kritis terhadap pemerintah maupun kebijakan kementerian.

"Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara," kata Nusron Wahid saat memberikan sambutan pada kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Jumat.

Ia mengatakan perbedaan pemikiran justru dapat memperkaya wawasan apabila setiap pihak diberikan ruang untuk saling bertukar gagasan. Analogi tersebut ia gambarkan melalui filsafat pertukaran pemikiran.

"Kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda. Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat," kata Nusron.

Kuliah umum bertema "Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan" itu turut menghadirkan pengamat politik Rocky Gerung sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya di hadapan lebih dari 500 taruna/taruni Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung menyampaikan pentingnya sanggahan dalam perdebatan akademik serta penguatan pendekatan filosofis untuk membongkar akar konsep pertanahan.

Rocky memaparkan tiga konsep pemaknaan pengelolaan tanah, yakni bagi masyarakat adat tanah memiliki nilai magis dan warisan leluhur, bagi negara tanah memiliki fungsi sosial melalui regulasi hukum, sedangkan bagi korporasi tanah dipandang sebagai komoditas bernilai bisnis.

"Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa tidak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya," kata Rocky.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026