
Taman Budaya Bantul mulai diaktifkan untuk kegiatan seni pada 2027

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyiapkan pemanfaatan awal Taman Budaya Bantul (TBB) untuk kegiatan seni dan budaya pada 2027 seiring penyelesaian pembangunan tahap pertama kawasan tersebut pada akhir tahun ini.
Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Bantul Yanatun Yunadiana di Bantul, Minggu, mengatakan pada tahap awal kawasan TBB dapat dimanfaatkan untuk kegiatan berskala kecil, sembari pembangunan fasilitas lainnya dilanjutkan secara bertahap.
"Untuk acara kita bisa lakukan di situ tahun depan, tapi acaranya acara kecil-kecilan," katanya.
Menurut dia, kegiatan tersebut dapat berupa pementasan kesenian tradisional seperti jatilan dan pertunjukan sederhana lainnya. Pemanfaatan awal itu diharapkan membuat kawasan mulai hidup dan memiliki aktivitas sebelum seluruh pembangunan TBB selesai.
Pembangunan TBB di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, dilakukan secara bertahap. Pembangunan tahap pertama yang berlangsung pada April hingga Desember 2026 terutama difokuskan pada pematangan lahan dan penyediaan infrastruktur dasar kawasan.
Kondisi lahan yang sebelumnya berupa kawasan tidak rata dan sebagian berupa jurang membuat pekerjaan pematangan lahan serta pembangunan akses membutuhkan penanganan cukup besar.
"Sebagian besar untuk meratakan lahan, membuat jalan, karena biayanya besar sekali untuk uruk itu, karena itu jurang dulu," ujarnya.
Selain pematangan lahan, pembangunan tahap pertama mencakup sejumlah fasilitas untuk membentuk fungsi awal kawasan, antara lain gapura, tengara atau landmark, kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT), pasar seni, penataan lanskap bagian depan, pos keamanan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Bantul, progres pembangunan fisik tahap pertama telah mencapai 65,023 persen per 21 Agustus 2026.
Pembangunan Taman Budaya juga ditetapkan sebagai salah satu proyek strategis Kabupaten Bantul pada 2026 dengan pendanaan sebesar Rp20,73 miliar. Kawasan seluas sekitar lima hektare tersebut dikembangkan sebagai ruang bagi kegiatan seni, budaya, kreativitas, dan aktivitas masyarakat.
Yanatun mengatakan sejalan dengan pembangunan fisik, pemerintah daerah mulai menyiapkan struktur organisasi UPT yang nantinya bertanggung jawab mengelola Taman Budaya Bantul.
Pembentukan organisasi pengelola dinilai penting agar fasilitas yang mulai tersedia dapat segera diaktifkan dan tidak hanya menjadi infrastruktur fisik tanpa kegiatan.
"Insya Allah awal tahun besok atau akhir tahun ini nanti struktur organisasi UPT-nya sudah ada, sudah jalan," katanya.
Menurut dia, UPT Taman Budaya dirancang memiliki kebutuhan organisasi dan sumber daya manusia yang lebih besar dibandingkan sejumlah UPT lain di tingkat kabupaten.
Kepala UPT Taman Budaya direncanakan setingkat kepala bidang, kemudian didukung kepala subbagian dan sejumlah kepala seksi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan ketersediaan sumber daya manusia.
"Ini butuh sumber daya yang cukup lumayan besar, termasuk personel yang mengisi di situ," ujarnya.
Selain pertunjukan seni, Disbud Bantul juga menyiapkan TBB sebagai ruang berkegiatan bagi seniman dan komunitas. Salah satunya melalui rencana kolaborasi dengan Forum Seni Rupa Bantul untuk menggelar pameran dan lokakarya melukis.
Karakter kawasan yang berada di ketinggian dinilai dapat memberikan ruang berbeda bagi kegiatan seni rupa sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.
Menurut Yanatun, pengembangan TBB sejak awal memang tidak hanya diarahkan untuk menyediakan tempat pementasan, tetapi juga menciptakan ruang interaksi antara seniman, komunitas, masyarakat, dan pengunjung.
Karena itu, kawasan tersebut juga direncanakan memiliki area kuliner dan ruang informal yang dapat digunakan masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi maupun berkegiatan kreatif.
"Seniman, terutama seniman seni rupa, itu kan senang kegiatan nonformal. Mereka bisa di situ ngopi sambil melukis, sambil ngobrol," katanya.
Pemanfaatan bertahap tersebut diharapkan membuat Taman Budaya Bantul mulai memiliki aktivitas sejak fasilitas awal tersedia, sementara pembangunan kawasan secara keseluruhan terus dilanjutkan.
Dengan konsep yang memadukan kebudayaan dan pariwisata, TBB diproyeksikan menjadi ruang bagi pengembangan seni dan budaya sekaligus mendukung aktivitas ekonomi kreatif masyarakat Bantul.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
