
BPBD Sleman optimalkan mitigasi bencana antisipasi aktivitas Merapi

Sleman (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, memperkuat berbagai langkah mitigasi bencana, baik secara struktural maupun non-struktural, menyusul penetapan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga) yang masih bertahan sejak 5 November 2020.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro di Sleman, Jumat, mengatakan tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang ditandai guguran material hingga 120 kali per hari serta luncuran awan panas secara berkala menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh pemangku kepentingan.
"Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat. Aktivitasnya masih dinamis dengan puluhan hingga ratusan guguran setiap hari. Oleh karena itu langkah mitigasi kebencanaan terus kami optimalkan sebelum potensi risiko berkembang ke tingkat Tanggap Darurat jika terjadi kenaikan status," kata Bambang.
Dalam skema mitigasi struktural, kata dia, BPBD Sleman memfokuskan perbaikan infrastruktur evakuasi dan peringatan dini. Langkah ini meliputi pelebaran dan perbaikan jalur evakuasi, pembenahan tebing rawan longsor di sepanjang jalur pengungsian, hingga pemantauan kondisi dam sabo yang kerap dilalui moda transportasi berat.
Selain itu keandalan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) terus dipastikan kelaikannya.
Saat ini terdapat total 37 EWS yang terpasang di wilayah Sleman, terdiri atas 34 unit di sepanjang lereng Merapi dan tiga unit di wilayah Prambanan untuk pemantauan luapan air (overflow).
"Kami mengecek, memperbaiki, dan merawat EWS digital, baik berupa sirene suara maupun kamera pengawas (CCTV) di wilayah lereng Merapi hingga di barak-barak pengungsian. Kesiapan barak serta pasokan logistik pangan dan non-pangan, termasuk stok masker anti-debu, juga telah disiagakan," katanya.
Sementara dari sisi mitigasi non-struktural, BPBD Sleman intensif menggelar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang mencakup tiga kapanewon (kecamatan), yakni Turi, Cangkringan, dan Pakem.
Program pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi sekolah di lereng Merapi, penguatan kapasitas relawan, hingga pembagian tas siaga bencana untuk pengamanan dokumen penting warga saat evakuasi juga terus dijalankan secara bertahap.
"Terkait kewaspadaan jangka pendek, BPBD Sleman meningkatkan pengawasan visual terhadap potensi kebakaran vegetasi di lereng atas akibat hempasan material panas Merapi," katanya.
Pihaknya juga koordinasi berkala dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), serta forum koordinasi lingkar Merapi yang mencakup Kabupaten Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Aktivitas Gunung Merapi dinamis, BPBD Sleman fokus mitigasi bencana
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
