Logo Header Antaranews Jogja

Presiden Afrika Selatan serukan pengawasan AI independen BRICS

Senin, 14 September 2026 16:38 WIB
Image Print
Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto (ketiga kiri) berfoto bersama dengan para pemimpin negara-negara BRICS dan mitranya di sesi terbuka dengan anggota BRICS, Partners Countries & Outreach Countries di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Minggu (13/9/2026). /ANTARA/Prisca Triferna/am.

Ankara (ANTARA) - Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Minggu (13/9), menyerukan agar BRICS membentuk mekanisme internasional untuk evaluasi ilmiah independen terhadap kecerdasan buatan (AI).

Dia juga memperingatkan bahwa kemampuan teknologi tidak boleh melampaui kemampuan manusia untuk memahami dan mengendalikannya.

Berbicara pada KTT BRICS di New Delhi, Ramaphosa mengatakan bahwa AI dapat membuka era baru produktivitas dan kemajuan manusia, namun dia juga memperingatkan adanya risiko yang terkait dengan sistem yang semakin canggih.

"Kemampuan model kecerdasan buatan semakin hebat dan dengan cepat mengubah hampir setiap aspek kehidupan ekonomi dan sosialnya," ujarnya.

Jika digunakan secara "efektif dan bertanggung jawab," AI dapat membantu mengurangi ketimpangan, kemiskinan, dan keterbelakangan, serta mentransformasi bidang kedokteran, pendidikan, penemuan ilmiah, dan produktivitas pertanian, tambahnya.

Namun, Ramaphosa menyatakan bahwa pemerintah harus mencermati peringatan dari pihak-pihak yang mengembangkan sistem AI paling canggih di dunia.

Dia menyebutkan berbagai risiko, termasuk operasi siber tingkat lanjut, bantuan dalam pengembangan senjata biologis, tindakan otonom, manipulasi, pengawasan massal, dan gangguan terhadap lapangan kerja, serta kemungkinan munculnya sistem yang kemampuannya sulit dikendalikan oleh manusia.

"Oleh karena itu, kita tidak boleh takut terhadap AI ataupun menghadapinya secara gegabah. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa tata kelola manusia berkembang secepat kemajuan kecerdasan buatan itu sendiri," kata Ramaphosa.

Presiden Afrika Selatan itu secara khusus mendukung seruan CEO Anthropic, Dario Amodei, agar ada pengawasan eksternal yang lebih ketat terhadap para pengembang AI.

"Kami sependapat dengan pihak-pihak di industri AI, seperti Dario Amodei, CEO Anthropic, yang berpendapat bahwa perusahaan AI harus tunduk pada pemeriksaan eksternal formal, audit, dan otoritas pemerintah," katanya.

Ramaphosa mengatakan bahwa pengawasan semacam itu sudah menjadi praktik standar dalam industri yang kegiatannya memiliki dampak signifikan terhadap keselamatan dan kesejahteraan manusia, seperti penerbangan, farmasi, tenaga nuklir, dan lembaga keuangan.

"Kita tidak boleh sampai pada situasi di mana kemampuan teknologi telah melampaui kapasitas kita untuk memahami, mengawasi, dan mengendalikannya," tegasnya.

Ramaphosa mengusulkan agar BRICS membentuk mekanisme internasional untuk evaluasi ilmiah independen terhadap AI, yang didukung oleh "prinsip kendali manusia yang bermakna" dan kewajiban pelaporan insiden serius.

Dia juga menyerukan penerapan langkah-langkah pengamanan yang semakin ketat seiring meningkatnya kemampuan AI, serta investasi dalam kapasitas AI berdaulat bagi negara-negara berkembang.

Ramaphosa menyambut baik usulan Presiden China Xi Jinping untuk membentuk ekosistem kecerdasan buatan (AI) bagi BRICS, seraya menyatakan bahwa Afrika Selatan mendukung inisiatif tersebut.

Sumber: Anadolu



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Presiden Afrika Selatan serukan pengawasan AI independen BRICS



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026