
Asa manis hilirisasi kakao dari bentang karst Bumi Handayani

Yogyakarta (ANTARA) - Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), selama ini lebih lekat dengan citra tanah kering dan bentang alam karst daripada hamparan kebun yang hijau dan subur.
Citra itu bukan tanpa alasan. Lebih dari separuh wilayah yang memiliki julukan Bumi Handayani ini merupakan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat kawasan karst di kabupaten tersebut membentang sekitar 807 kilometer persegi atau 53 persen dari keseluruhan wilayah Gunungkidul.
Namun, bagi sebagian petani, kondisi alam tersebut bukan alasan untuk berhenti mencari peluang.
Keterbatasan lahan dan air justru mendorong petani bereksperimen mencari komoditas yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi. Dari proses panjang itu, kakao mulai menemukan tempatnya di antara bentang alam yang selama ini lebih sering disebut gersang.
Komoditas tersebut kini perlahan berkembang menjadi salah satu potensi ekonomi baru. Tidak hanya ditanam dan dipanen, kakao Gunungkidul mulai diolah menjadi berbagai produk turunan sehingga rantai nilai dari hulu hingga hilir mulai terbentuk.
Perjalanan itu salah satunya terlihat di Dusun Gambiran, Kalurahan Bunder, Gunungkidul.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
