
BPS: DIY alami inflasi 0,26 persen didorong kenaikan harga pangan

Yogyakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat provinsi tersebut mengalami inflasi sebesar 0,26 persen secara month-to-month pada September 2026 yang didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan.
"Inflasi bulanan terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,94 persen dengan andil 0,26 persen," kata pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih di Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, komoditas utama penyumbang inflasi adalah beras dengan andil 0,07 persen, cabai rawit 0,06 persen, buncis 0,04 persen, daging ayam ras 0,03 persen, serta telur ayam ras 0,02 persen.
Selain kelompok pangan, kenaikan harga juga terjadi pada beberapa kelompok pengeluaran lainnya seperti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,13 persen dengan andil 0,02 persen.
"Kelompok pakaian dan alas kaki, kesehatan, serta pendidikan masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,29 persen, 0,25 persen, dan 0,12 persen, dengan andil masing-masing sebesar 0,01 persen," katanya.
Baca juga: Menapak jalan swasembada bawang putih
Baca juga: Prabowo: Indonesia swasembada delapan komoditas pangan
Kendati demikian di sisi lain penurunan harga sejumlah komoditas menahan laju inflasi pada September, seperti emas perhiasan memberikan andil deflasi 0,05 persen, sedangkan ketimun, wortel, dan bawang merah masing-masing memberikan andil deflasi 0,02 persen.
"Angkutan udara juga memberikan andil deflasi 0,01 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya secara keseluruhan mengalami deflasi sebesar 0,70 persen dengan andil minus 0,05 persen," katanya.
Lebih lanjut, menurut dia, secara tahunan, inflasi DIY mengalami peningkatan dari 3,07 persen pada Agustus menjadi 3,18 persen pada September.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,09 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,81 persen serta kelompok transportasi 0,56 persen.
"Emas perhiasan memberikan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 0,76 persen, diikuti bensin 0,35 persen, beras 0,16 persen, cabai rawit 0,12 persen, dan minyak goreng 0,09 persen. Sebaliknya, kelapa, telur ayam ras, bawang merah, tomat, dan daun melinjo menjadi komoditas yang menahan laju inflasi tahunan," katanya.
Sementara itu, berdasarkan wilayah, Kota Yogyakarta mencatat inflasi bulanan 0,28 persen dan inflasi tahunan 3,31 persen, kemudian Kabupaten Gunungkidul mengalami inflasi bulanan 0,24 persen dan inflasi tahunan 3,07 persen.
"Beras dan cabai rawit menjadi komoditas penyumbang inflasi bulanan di kedua wilayah tersebut," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
